Lifestyle

Menyelami Kisah Inspiratif Becak Pustaka Mbah Topo di Yogyakarta

Published

on

Semarang (usmnews)- Kota Yogyakarta memiliki seorang tokoh literasi yang sangat inspiratif. Selanjutnya, kakek berusia delapan puluh tahun ini bernama Fransiskus Xaverius Sutopo. Pastinya, masyarakat luas mengenal beliau sebagai sosok pahlawan buku jalanan. Akhirnya, kehadiran Becak Pustaka Mbah Topo mengubah wajah literasi kota tersebut.

Pada awalnya, beliau meniti karier sebagai pegawai negeri sipil militer. Kemudian, keahlian menggambar mengantarkan beliau bekerja pada lingkungan Komando Distrik Militer. Tentunya, pria tangguh ini mengabdi semenjak tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh tujuh. Akhirnya, beliau memutuskan pensiun pada tahun dua ribu tiga silam.

Latar Belakang dan Awal Mula Mbah Topo Mengayuh Pedal

Setahun berselang, kakek inspiratif ini mulai menarik transportasi roda tiga tradisional. Tujuannya, beliau ingin mencari aktivitas fisik demi menjaga kesehatan tubuh. Karenanya, beliau selalu membawa buku bacaan saat menunggu penumpang datang. Menariknya, kebiasaan positif ini memancing simpati dari seorang pelanggan setianya. Singkatnya, pelanggan tersebut mulai menyumbangkan buku hingga koleksinya mencapai ratusan.

Misi Literasi dan Operasional Pustaka Berjalan

Kenyataannya, sang pahlawan literasi merasa gelisah melihat kecanduan masyarakat terhadap gawai. Oleh karena itu, Becak Pustaka Mbah Topo hadir membawa solusi nyata. Kemudian, beliau memodifikasi bagian belakang jok kendaraannya menjadi rak buku rapi. Tujuannya, beliau ingin mengalihkan perhatian generasi muda dari layar ponsel pintar. Pastinya, misi mulia ini terus berjalan tanpa mengenal kata lelah.

Setiap harinya, beliau mangkal pada kawasan Jalan Dokter Sardjito Terban Yogyakarta. Biasanya, pria baik hati ini memulai aktivitasnya semenjak pagi hari. Kemudian, beliau mengakhiri kegiatan tersebut pada pukul satu siang tepat. Sebelumnya, beliau juga sering mencari penumpang sekitar Jalan Tentara Pelajar. Tentunya, siapa saja boleh membaca buku koleksinya tanpa membayar biaya. Bahkan, anak sekolah hingga pemulung jalanan sering menikmati fasilitas gratis tersebut.

Apresiasi dan Dukungan Pemerintah Daerah

Tentunya, dedikasi tanpa pamrih ini mendapat perhatian besar dari pemerintah setempat. Faktanya, Becak Pustaka Mbah Topo menerima bantuan unit kendaraan bertenaga listrik. Selanjutnya, Pemerintah Daerah Yogyakarta memberikan hadiah tersebut untuk meringankan beban fisiknya. Karenanya, sang kakek tidak perlu lagi mengayuh pedal sekuat tenaga. Pastinya, bantuan ini sangat mendukung kegiatan berkeliling menyebarkan virus literasi.

Selain itu, desain kendaraan roda tiga ini juga memenangkan penghargaan bergengsi. Buktinya, Dinas Perhubungan Yogyakarta mengapresiasi kreativitas modifikasi unik tersebut. Hebatnya, Becak Pustaka Mbah Topo sukses memadukan transportasi tradisional dan ruang baca. Kesimpulannya, semangat pantang menyerah sang kakek patut menjadi teladan bagi kita semua. Harapannya, gerakan literasi semacam ini terus tumbuh menyebar melintasi berbagai kota.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version