Nasional
Menjaga Akar Bangsa: Urgensi Pelestarian Situs Sejarah dalam Visi Kepemimpinan Prabowo Subianto

Semarang (usmnews) – Dikutip dari SINDOnews, Dalam sebuah momentum strategis yang mempertemukan pemangku kebijakan dari seluruh penjuru tanah air, Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya penghormatan terhadap jejak masa lalu sebagai pilar utama pembangunan masa depan. Pada acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah tahun 2026 yang diselenggarakan di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Presiden memberikan instruksi khusus kepada seluruh kepala daerah untuk menaruh perhatian ekstra pada pelestarian situs-situs bersejarah nasional.
Sejarah sebagai Kompas dan Fondasi Kebangsaan
Presiden Prabowo mengawali arahannya dengan sebuah refleksi mendalam mengenai hubungan antara sejarah dan martabat sebuah bangsa. Bagi beliau, sejarah bukan sekadar rentetan peristiwa di masa lalu yang tertulis dalam buku teks, melainkan sebuah guru yang sangat disiplin. Beliau memperingatkan dengan tegas bahwa mereka yang sengaja atau tidak sengaja melupakan akar sejarahnya akan menghadapi konsekuensi berat, yakni “dihukum oleh sejarah” itu sendiri.
Pesan ini mengandung makna filosofis yang kuat: tanpa memahami kesalahan dan keberhasilan di masa lampau, sebuah bangsa berisiko tinggi terjebak dalam lingkaran kesalahan yang sama secara berulang. Oleh karena itu, para gubernur, bupati, dan wali kota diminta tidak hanya fokus pada pembangunan fisik yang modern, tetapi juga harus menjadi garda terdepan dalam melindungi warisan fisik dan nilai-nilai yang ditinggalkan oleh para pendahulu bangsa.

Refleksi Pribadi dan Kritik atas Ketidakpedulian Masa Lalu
Salah satu poin menarik dalam taklimat Presiden adalah ketika beliau berbagi pengalaman personal mengenai minimnya penghormatan terhadap situs sejarah di dalam negeri. Prabowo menyinggung sebuah temuan yang memprihatinkan dari pengalamannya di masa lalu, tepatnya sekitar tahun 1978. Beliau menceritakan masih adanya prasasti yang mengandung unsur diskriminasi atau sisa-sisa pola pikir era kolonial yang bertahan lama meski Indonesia sudah merdeka puluhan tahun.
Contoh spesifik yang beliau kemukakan adalah keberadaan prasasti tertentu di kolam renang Manggarai, Jakarta, yang pada tahun 1978 masih terlihat jelas jejak-jejak ketidakadilan sosialnya. Melalui cerita ini, Presiden ingin menyoroti bahwa seringkali kita sebagai bangsa kurang peka terhadap simbol-simbol sejarah yang ada di sekitar kita. Beliau sangat menyayangkan jika situs-situs yang memiliki nilai pembelajaran tinggi harus hancur atau terlupakan hanya karena alasan modernisasi atau pembangunan yang tidak terencana dengan baik.
Tanggung Jawab Kepala Daerah dalam Pelestarian
Instruksi yang disampaikan dalam Rakornas ini merupakan mandat langsung bagi pemerintah daerah untuk melakukan inventarisasi dan perawatan berkelanjutan terhadap situs sejarah di wilayah masing-masing. Pelestarian ini mencakup berbagai aspek:
- Proteksi Fisik: Mencegah pembongkaran atau alih fungsi lahan yang mengandung nilai sejarah tanpa kajian yang mendalam.
- Edukasi Publik: Menjadikan situs-situs tersebut sebagai ruang belajar bagi generasi muda agar rasa bangga terhadap identitas nasional tetap terjaga.
- Integrasi Pembangunan: Memastikan bahwa tata ruang kota atau daerah tetap memberikan ruang bagi keberadaan cagar budaya.

Kesimpulan: Menuju Masa Depan dengan Menghormati Masa Lalu
Langkah Presiden Prabowo ini menunjukkan bahwa kepemimpinannya mengedepankan aspek keberlanjutan nilai. Beliau meyakini bahwa kekuatan Indonesia sebagai bangsa besar terletak pada kemampuannya untuk menghargai setiap tetes keringat dan perjuangan para leluhur yang terekam dalam situs-situs bersejarah tersebut. Dengan instruksi ini, diharapkan tidak ada lagi situs bersejarah yang terlantar, rusak, atau bahkan hilang ditelan zaman, sehingga generasi mendatang masih bisa menyentuh dan mempelajari bukti otentik kejayaan serta perjuangan bangsa Indonesia.
Pelestarian sejarah, menurut pandangan Presiden, adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap kedaulatan yang telah kita raih dengan susah payah. Melalui kepedulian para kepala daerah, situs sejarah diharapkan dapat bertransformasi menjadi simbol persatuan dan inspirasi bagi kemajuan Indonesia di kancah internasional.







