Lifestyle
Menimbang Ulang Kebiasaan Ngopi: Antara Manfaat Kesehatan dan Efek Samping

Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com Bagi banyak orang, kopi telah bertransformasi lebih dari sekadar minuman pelepas dahaga; ia adalah ritual esensial. Secangkir kopi sering kali menjadi “tombol on” untuk memulai hari, teman setia saat rehat kerja, hingga pelengkap hangat dalam perbincangan sosial. Kendati demikian, hubungan manusia dengan kopi tidak selalu berjalan mulus. Di balik aromanya yang memikat, sebagian individu justru merasakan dampak fisiologis yang kurang menyenangkan, mulai dari kecemasan yang meningkat, insomnia, hingga gangguan pencernaan. Fenomena ini memicu tren di mana banyak orang mulai mencoba mengurangi atau bahkan berhenti total mengonsumsi kopi.Lantas, apakah keputusan berhenti minum kopi adalah langkah yang tepat? Para ahli nutrisi memberikan pandangan yang berimbang mengenai hal ini.
Sisi Positif: Kopi Bukanlah “Musuh”Sebelum memutuskan untuk berhenti, penting untuk memahami bahwa kopi bukanlah minuman yang secara inheren buruk. Secara ilmiah, biji kopi adalah sumber nutrisi yang kaya. Menurut ahli nutrisi Lina Begdache, PhD, RDN, kopi mengandung polifenol yang bekerja di tingkat molekuler untuk melindungi sel, serta antioksidan, vitamin B, dan magnesium. Jika dikonsumsi dengan tepat oleh orang yang toleran, kopi menawarkan manfaat signifikan: Booster Mental dan Fisik: Kafein efektif melawan kelelahan. Dr. Laura Purdy menyoroti bahwa kafein bahkan bisa membantu meredakan gejala depresi ringan dan memperbaiki suasana hati (mood). Peningkatan Performa: Dr. Shoshana Ungerleider menambahkan bahwa kewaspadaan, fokus, dan kinerja atletik dapat terdongkrak berkat asupan kafein.

Perisai Penyakit: Kandungan antioksidan dalam kopi dikaitkan dengan penurunan peradangan tubuh, serta potensi mengurangi risiko penyakit jantung, kanker tertentu, dan gangguan irama jantung (atrial fibrillation). Meskipun kaya manfaat, kopi bisa menjadi bumerang bagi individu dengan sensitivitas tertentu. Konsumsi kopi, bahkan dalam jumlah sedikit, dapat memicu: Kekacauan Pola Tidur: Kafein memblokir rasa kantuk, yang berujung pada penurunan kualitas istirahat dan kelelahan kronis. Kecemasan Berlebih: Sifat stimulan kafein dapat memicu respons stres tubuh, membuat seseorang merasa gelisah atau jitters. Masalah Kardiovaskular dan Pencernaan: Palpitasi (jantung berdebar) dan kenaikan tekanan darah adalah efek umum. Selain itu, kafein meningkatkan produksi asam lambung yang berbahaya bagi penderita GERD atau IBS. Kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, penderita gangguan kecemasan, dan mereka yang memiliki masalah lambung sangat disarankan untuk mempertimbangkan ulang kebiasaan ini.
Transformasi Kesehatan Setelah Berhenti Ngopi
Para ahli sepakat bahwa melepaskan ketergantungan pada kafein dapat membawa perubahan positif yang nyata: Pemulihan Siklus Tidur: Tanpa intervensi kafein yang menghambat adenosin (zat pemicu kantuk), tubuh bisa kembali ke ritme sirkadian alaminya, menghasilkan tidur yang lebih nyenyak dan berkualitas. Mental yang Lebih Tenang: Hilangnya stimulasi buatan membuat detak jantung dan tekanan darah lebih stabil, yang berkontribusi pada penurunan tingkat kecemasan. Energi yang Konsisten: Kopi sering memberikan lonjakan energi yang diikuti dengan penurunan drastis (crash). Tanpa kafein, energi tubuh akan terasa lebih stabil dan merata sepanjang hari tanpa fluktuasi tajam. Kenyamanan Pencernaan: Lambung akan terasa lebih nyaman karena produksi asam menurun, memberikan waktu bagi sistem pencernaan untuk memulihkan diri.

Strategi Efektif Melepas Ketergantungan. Berhenti minum kopi secara mendadak (cold turkey) sangat tidak disarankan karena kafein adalah zat psikoaktif yang memicu ketergantungan. Pemutusan tiba-tiba bisa menyebabkan gejala penarikan (withdrawal) seperti sakit kepala hebat, lemas, dan emosi tidak stabil. Berikut adalah langkah taktis yang disarankan para ahli: Dengarkan Tubuh: Lakukan proses ini secara perlahan dan sadari respon tubuh Anda. Metode Bertahap (Tapering Off): Kurangi frekuensi secara perlahan. Anda bisa mulai dengan mengurangi jumlah cangkir harian, minum selang-seling hari, atau mencampur kopi biasa dengan kopi decaf (tanpa kafein) untuk menipu indra perasa. Substitusi Minuman: Beralihlah ke teh (hijau, hitam, atau matcha) yang memiliki kadar kafein lebih rendah. Ini membantu mencegah sakit kepala akibat penghentian kafein total secara tiba-tiba.
Pertahankan Ritual, Ganti Isinya: Sering kali, yang dirindukan bukanlah kafeinnya, melainkan kehangatan ritual pagi hari. Ganti kopi Anda dengan teh herbal, cokelat panas rendah kafein, atau decaf. Dengan cara ini, kenyamanan psikologis tetap terjaga tanpa mengorbankan kesehatan fisik.Kesimpulannya, kopi adalah minuman yang kompleks dengan pro dan kontra. Kunci utamanya adalah mengenali sinyal tubuh Anda sendiri. Jika kopi mulai mengganggu tidur, ketenangan, atau perut Anda, mungkin sudah saatnya untuk mengurangi dosis atau berhenti sejenak demi kesehatan jangka panjang.







