Lifestyle

Mengupas Mitos dan Fakta Medis: Benarkah Konsumsi Keju Berlebih Memicu Mimpi Buruk?

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com Dalam dunia kesehatan dan gaya hidup, sering kali beredar anggapan atau “legenda urban” yang menyebutkan bahwa mengonsumsi keju dalam jumlah banyak, terutama sebelum tidur, dapat menyebabkan seseorang mengalami mimpi buruk. Topik ini kembali menjadi perbincangan hangat, memicu rasa penasaran apakah klaim tersebut memiliki landasan ilmiah yang kuat atau sekadar mitos belaka yang diwariskan turun-temurun. Sebenarnya, hubungan antara konsumsi keju dan kualitas mimpi seseorang dapat dijelaskan melalui mekanisme biologis tubuh saat memproses makanan. Keju, khususnya jenis keju tua atau aged cheese, merupakan produk olahan susu yang kaya akan kandungan lemak dan protein.

Ketika seseorang mengonsumsi makanan berat yang tinggi lemak seperti keju tepat sebelum waktu tidur, sistem pencernaan dipaksa untuk bekerja lebih keras daripada biasanya. Proses pencernaan yang aktif ini dapat meningkatkan metabolisme dan suhu tubuh, yang pada akhirnya merangsang aktivitas otak menjadi lebih intens. Padahal, saat tidur, otak seharusnya berada dalam fase istirahat atau relaksasi. Aktivitas otak yang meningkat akibat proses pencernaan ini dapat memengaruhi siklus tidur, khususnya pada fase Rapid Eye Movement (REM), yaitu fase di mana mimpi terjadi. Ketika tidur menjadi tidak nyenyak atau terganggu akibat ketidaknyamanan perut atau refluks asam lambung (yang sering dipicu oleh konsumsi susu dan lemak), seseorang cenderung lebih mudah terbangun. Kondisi sering terbangun inilah yang membuat seseorang lebih mengingat detail mimpinya, termasuk mimpi yang aneh atau menyeramkan, yang kemudian diasosiasikan sebagai “efek makan keju”.

Selain faktor pencernaan, terdapat pula tinjauan dari sisi kimiawi. Keju mengandung asam amino yang disebut tiramin (tyramine). Zat ini diketahui dapat memicu pelepasan norepinefrin, sebuah zat kimia otak yang berfungsi meningkatkan kewaspadaan dan detak jantung. Tingginya kadar tiramin dalam tubuh sebelum tidur dapat membuat otak tetap “siaga”, sehingga menyulitkan seseorang untuk masuk ke fase tidur nyenyak (deep sleep). Hal ini berbanding terbalik dengan kandungan triptofan dalam susu yang biasanya memberikan efek menenangkan. Pada keju tua, efek stimulasi dari tiramin sering kali lebih dominan.Sebuah studi lawas yang pernah dilakukan oleh British Cheese Board sebenarnya pernah mencoba meluruskan hal ini. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa makan keju sebelum tidur tidak secara langsung menyebabkan mimpi “buruk” atau horor, melainkan memicu mimpi yang lebih “hidup” atau vivid.

Jenis keju yang berbeda bahkan diklaim dapat memengaruhi jenis mimpi yang berbeda pula. Namun, intinya tetap sama: makanan berat memengaruhi kualitas istirahat.Oleh karena itu, para ahli kesehatan menyarankan agar konsumsi keju dilakukan dengan bijak. Bukan berarti keju harus dihindari sepenuhnya di malam hari, namun kuncinya terletak pada porsi dan waktu konsumsi. Sangat disarankan untuk memberi jeda waktu minimal dua hingga tiga jam antara makan dan waktu tidur agar proses pencernaan telah selesai. Dengan demikian, tubuh dapat beristirahat dengan optimal tanpa gangguan metabolisme yang dapat memicu mimpi aneh atau gangguan tidur lainnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version