Lifestyle
Mengungkap Musuh Tersembunyi Kulit: 4 Faktor Utama yang Mempercepat Penuaan Selain Sinar Matahari
Semarang (usmnews) – Dikutip dari CNBCIndonesia.com Penuaan kulit sering kali dianggap sebagai proses alami yang hanya berkaitan dengan bertambahnya usia atau dampak buruk dari paparan sinar ultraviolet (UV). Namun, para ahli dermatologi kini menekankan bahwa ada mekanisme internal dan gaya hidup yang jauh lebih berpengaruh dalam menentukan seberapa cepat kulit seseorang kehilangan elastisitasnya. Dr. Mona Gohara, seorang profesor klinis dermatologi di Yale School of Medicine, menjelaskan bahwa di balik kerusakan akibat matahari, terdapat proses biologis intrinsik yang bekerja di tingkat seluler.
Berdasarkan penjelasan para ahli, berikut adalah empat faktor utama yang secara signifikan dapat mempercepat munculnya tanda-tanda penuaan pada kulit:
1. Cetak Biru Genetika (Penuaan Intrinsik)
Faktor pertama yang sangat menentukan adalah genetika. Dr. Mona Gohara menyebutkan bahwa setelah kita melindungi diri dari sinar matahari, proses penuaan sebagian besar ditentukan oleh apa yang disebut sebagai penuaan intrinsik. Ini adalah proses alami di mana efisiensi pembelahan sel kulit mulai menurun seiring waktu. Produksi kolagen—protein yang menjaga kekenyalan kulit—secara bertahap berkurang, dan sistem perbaikan alami kulit tidak lagi seaktif saat usia muda. Proses ini berlangsung secara perlahan namun pasti, mengikuti “cetak biru” genetik yang kita bawa sejak lahir. Oleh karena itu, kondisi kulit seseorang sangat dipengaruhi oleh faktor keturunan.
2. Dampak Destruktif Stres Kronis
Stres bukan hanya membebani pikiran, tetapi juga merupakan ancaman nyata bagi kesehatan kulit. Dr. Gohara menganalogikan stres sebagai aplikasi latar belakang pada ponsel yang terus-menerus menguras daya baterai. Ketika seseorang mengalami stres kronis, tubuh akan melepaskan hormon kortisol dalam jumlah tinggi. Hormon ini memicu peradangan sistemik yang dapat merusak struktur kolagen. Akibatnya, kulit mungkin terlihat kusam, teksturnya berubah, dan kehilangan vitalitasnya seolah-olah sedang beroperasi dalam “mode hemat daya.” Untuk mengatasinya, para ahli menyarankan aktivitas kecil yang menenangkan, seperti meditasi pernapasan, jalan kaki singkat, atau sekadar mendengarkan musik untuk menurunkan kadar kortisol.
3. Bahaya Gula dan Proses Glikasi
Diet atau pola makan memainkan peran krusial dalam menjaga kemudaan kulit. Dr. Joshua Zeichner dari Rumah Sakit Mount Sinai menjelaskan fenomena yang disebut glikasi. Ketika kadar gula darah tetap tinggi secara berkelanjutan, molekul gula akan menempel pada serat kolagen. Proses ini membuat kolagen yang seharusnya fleksibel menjadi kaku dan rapuh. Alih-alih melentur, kolagen yang terglikasi ini akan mudah retak, sehingga memicu munculnya garis-garis halus, kerutan mendalam, dan kulit yang tampak kendur. Oleh karena itu, membatasi konsumsi makanan manis, makanan olahan, serta karbohidrat bertepung sangat dianjurkan untuk menjaga integritas kolagen kulit.
4. Kebiasaan Merokok dan Kekurangan Oksigen
Merokok dianggap sebagai salah satu faktor eksternal terburuk bagi kesehatan kulit setelah paparan sinar matahari. Menurut Dr. Gina Maccarone, nikotin memiliki efek vasokonstriksi, yaitu menyempitkan pembuluh darah. Kondisi ini menghambat aliran oksigen dan nutrisi penting menuju sel-sel kulit. Tanpa pasokan oksigen yang cukup, proses regenerasi dan penyembuhan kulit menjadi sangat lambat. Selain merusak tekstur, merokok juga mempercepat kerusakan kolagen secara drastis, yang menyebabkan munculnya kerutan dini yang khas pada perokok. Berhenti merokok atau mengganti kebiasaan tersebut dengan aktivitas yang lebih sehat sangat disarankan untuk mencegah kerusakan permanen pada jaringan kulit.
Dengan memahami keempat faktor di atas—genetika, stres, konsumsi gula, dan merokok—kita dapat mengambil langkah yang lebih proaktif dalam merawat kesehatan kulit. Penuaan memang tidak bisa dihindari, namun dengan manajemen gaya hidup yang tepat, proses tersebut dapat diperlambat secara signifikan.