Lifestyle
Mengungkap Akar Sejarah dan Budaya: Alasan di Balik Kebiasaan Orang Barat Menggunakan Tisu Toilet
Semarang (usmnews) – Dikutip cnbcindonesia.news Perbedaan gaya hidup antara masyarakat Barat dan Timur sering kali menjadi topik diskusi yang menarik, termasuk dalam urusan paling privat sekalipun, yaitu cara membersihkan diri setelah buang air besar atau cebok. Bagi masyarakat Indonesia dan sebagian besar negara di Asia serta Afrika, air adalah elemen wajib dalam menjaga kebersihan tubuh. Namun, di negara-negara Barat, penggunaan kertas tisu justru menjadi standar utama. Fenomena ini ternyata tidak terjadi begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh kombinasi faktor sejarah, iklim, hingga pola makan yang telah mengakar selama berabad-abad.
Secara historis, metode membersihkan diri sangat bergantung pada ketersediaan sumber daya di sekitar manusia. Sebelum tisu toilet modern ditemukan, manusia menggunakan berbagai media sesuai dengan kondisi lingkungan mereka. Masyarakat Romawi Kuno pada abad ke-6 SM diketahui menggunakan batu atau spons yang direndam dalam air garam. Sementara itu, di wilayah Timur Tengah dan Asia, air menjadi pilihan utama karena ketersediaannya serta dipengaruhi kuat oleh ajaran agama, seperti Islam dan Hindu, yang menekankan kesucian melalui air. Menariknya, tisu sebagai alat pembersih justru pertama kali terdeteksi di China, bukan di Barat, sebagai hasil dari perkembangan teknologi kertas di Negeri Tirai Bambu tersebut.
Salah satu faktor utama mengapa masyarakat Barat lebih memilih tisu adalah kondisi iklim. Di negara-negara dengan empat musim, suhu udara bisa menjadi sangat ekstrem saat musim dingin. Menggunakan air untuk cebok dalam cuaca yang membeku tentu menjadi tantangan tersendiri dan cenderung dihindari karena rasa dingin yang menusuk. Sebaliknya, masyarakat di wilayah tropis justru merasa lebih segar dan bersih saat bersentuhan dengan air. Faktor kenyamanan termal inilah yang secara perlahan membentuk preferensi budaya yang berbeda.
Selain iklim, pola konsumsi atau diet juga memegang peranan penting. Masyarakat Barat secara tradisional mengonsumsi makanan yang rendah serat, yang menghasilkan tekstur kotoran yang cenderung lebih padat dan tidak terlalu basah. Dalam kondisi ini, penggunaan tisu dianggap sudah cukup memadai untuk membersihkan sisa kotoran. Hal ini berbanding terbalik dengan masyarakat di Asia atau Afrika yang banyak mengonsumsi serat dan makanan berempah, sehingga air dianggap sebagai satu-satunya cara paling efektif untuk memastikan kebersihan yang maksimal.
Secara medis, penelitian sebenarnya menunjukkan bahwa penggunaan air jauh lebih unggul dalam menghilangkan bakteri dan kuman dibandingkan hanya dengan menyeka menggunakan tisu kering. Namun, karena penggunaan tisu sudah menjadi bagian dari identitas budaya dan didukung oleh infrastruktur industri yang masif sejak abad ke-19, kebiasaan ini sulit untuk diubah. Meskipun kini mulai muncul tren penggunaan bidet di beberapa rumah tangga di Barat, tisu toilet tetap menjadi pilihan praktis yang telah mendarah daging dalam keseharian mereka. Akhirnya, perbedaan ini hanyalah bentuk adaptasi manusia terhadap lingkungan dan tradisi yang mereka warisi secara turun-temurun.