International

“Mengidentifikasi Al-Majd Europe: Sebuah Organisasi Terselubung yang Memfasilitasi Perjalanan Warga Palestina ke Afrika Selatan dan Indonesia.”

Published

on

Semarang (usmnews) dikutip dari sindonews.com Sebuah kesaksian dari seorang pria Palestina, yang identitasnya terpaksa dirahasiakan demi alasan keamanan, telah mengungkap operasi dari sebuah organisasi bayangan yang dikenal sebagai Al-Majd Europe. Organisasi ini dilaporkan telah berhasil memindahkan 153 warga Palestina dari Gaza ke Afrika Selatan tanpa dilengkapi dokumen resmi.

Pria tersebut menjelaskan bahwa ini adalah bagian dari sebuah proses yang dirancang secara sistematis untuk mendorong lebih banyak penduduk keluar dari wilayah kantong yang telah hancur lebur tersebut.

Dalam keterangannya kepada Al Jazeera, pria itu menegaskan adanya “koordinasi yang kuat” antara kelompok Al-Majd Europe dan pihak militer Israel dalam memfasilitasi pemindahan semacam itu. Ia menggambarkan keseluruhan proses evakuasi tersebut tampak “rutin” dan terorganisir dengan baik.

Prosesnya dimulai dengan penggeledahan menyeluruh atas barang-barang pribadi mereka sebelum diarahkan untuk naik ke sebuah bus. Bus tersebut kemudian bergerak melintasi perbatasan Karem Abu Salem (yang oleh Israel disebut Kerem Shalom) di Gaza selatan, sebuah perlintasan vital yang berada di bawah kendali penuh Israel. Dari sana, rombongan dibawa masuk ke wilayah Israel selatan, tepatnya menuju Bandara Ramon.

Di bandara tersebut, ia mencatat sebuah detail penting: “karena tidak ada pengakuan oleh [Israel] atas negara Palestina, mereka tidak membubuhkan cap pada paspor kami.” Ini menunjukkan bahwa proses keluarnya mereka tidak tercatat sebagai keberangkatan resmi dari sebuah negara.

Perjalanan berlanjut menggunakan pesawat sewaan dari Rumania yang membawa rombongan itu menuju Kenya, yang hanya berfungsi sebagai negara transit. Pria tersebut mengindikasikan bahwa tampaknya ada koordinasi serupa yang telah terjalin antara Al-Majd Europe dan otoritas di Kenya untuk melancarkan proses tersebut. Yang menambah ketidakpastian, para penumpang dalam rombongan itu sama sekali tidak mengetahui ke mana negara tujuan akhir mereka.

Operasi ini dikoordinasi oleh sebuah jaringan yang kompleks. Pria itu menyebut setidaknya ada tiga orang koordinator yang bekerja dari dalam Gaza, sementara sisa komunikasi dan logistik jaringan dijalankan oleh beberapa warga Palestina yang berada di Israel, di luar wilayah kantong tersebut.

Proses pendaftaran awalnya dilakukan secara daring (online), yang kemudian dilanjutkan dengan proses penyaringan. Biaya untuk keluar sangat mahal; pria tersebut mengaku ia pribadi membayar USD6.000 (sekitar Rp 98 juta) untuk memberangkatkan dirinya dan dua anggota keluarganya. “Pembayaran dilakukan melalui aplikasi bank ke rekening perorangan, bukan ke lembaga,” ujarnya, menyoroti sifat transaksi yang tidak resmi dan mencurigakan.

Warga Palestina lain yang berada dalam penerbangan hari Jumat menuju Afrika Selatan dilaporkan membayar biaya yang bervariasi, antara USD1.500 hingga USD5.000 per orang. Mereka juga dibatasi secara ketat, hanya diizinkan membawa telepon genggam, sejumlah uang tunai, dan sebuah ransel.

Afrika Selatan bukanlah satu-satunya tujuan. Pria itu mengungkapkan bahwa Indonesia adalah tujuan pertama bagi kelompok yang ia ketahui, yang telah diberangkatkan pada bulan Juni. Sementara itu, pemindahan kelompok kedua ke lokasi yang tidak diketahui sempat ditunda, sebelum akhirnya ia menerima panggilan untuk meninggalkan Gaza pada bulan Agustus.

Al-Majd Europe pada dasarnya beroperasi menggunakan jalur tidak resmi yang difasilitasi oleh militer Israel, sambil menuntut pembayaran tinggi dari warga Palestina yang putus asa. Namun, identitas siapa yang sebenarnya berada di balik operasi ini tetap menjadi misteri besar.

Kelompok tersebut mengklaim di situs webnya bahwa mereka didirikan pada tahun 2010 di Jerman. Akan tetapi, penelusuran fakta mengungkap bahwa situs web itu sendiri baru didaftarkan pada tahun ini. Kejanggalan lain termasuk penggunaan gambar-gambar yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) untuk profil para eksekutifnya dan tidak adanya detail kontak yang kredibel. Meskipun situs webnya tidak mencantumkan lokasi kantor, alamatnya diketahui berada di lingkungan Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur yang diduduki.

Al Jazeera juga berhasil berbicara dengan seorang pria Palestina lain yang hanya mengidentifikasi dirinya sebagai Omar. Omar mengatakan seorang perwakilan Al-Majd Europe memberitahunya bahwa biaya awal adalah USD2.500 per orang sebagai uang muka. Namun, permintaan Omar untuk pindah akhirnya ditolak oleh perwakilan tersebut dengan alasan bahwa kelompok itu tidak menerima pelancong tunggal (solo).

Berbicara dari az-Zawayda di Gaza tengah, koresponden Al Jazeera, Hind Khoudary, melaporkan bahwa berita tentang operasi ini telah menyebar luas di kalangan warga Palestina. Banyak yang terdorong untuk mempertimbangkannya karena “situasi hidup yang tak tertahankan” setelah dua tahun pemboman dan operasi darat Israel yang intensif.

“Sistem pendidikan di Gaza juga telah runtuh, sehingga beberapa warga Palestina merasa tidak ada masa depan bagi mereka dan anak-anak mereka,” ujar Khoudary, menjelaskan akar keputusasaan tersebut.

Secara terpisah, militer Israel telah mengakui perannya dalam “memfasilitasi” pemindahan warga Palestina keluar dari Gaza. Tindakan ini mereka sebut sebagai bagian dari kebijakan resmi “keberangkatan sukarela” bagi warga Palestina, sebuah kebijakan yang didukung tidak hanya oleh Israel tetapi juga oleh Amerika Serikat. Faktanya, tentara Israel telah membentuk sebuah unit khusus pada bulan Maret, setelah memperoleh persetujuan dari kabinet keamanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang ditugaskan untuk lebih mendorong dan memfasilitasi kebijakan ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version