Education
Mengenal Virus Nipah: Karakteristik, Bahaya, dan Langkah Strategis Pencegahannya

Semarang (usmnews) – Dikutip Merdeka.com Virus Nipah (NiV) kini kembali menjadi perhatian serius di panggung kesehatan global. Sebagai patogen zoonotik yang memiliki tingkat kematian sangat tinggi, virus ini dipandang sebagai ancaman yang tidak boleh diremehkan. Meskipun pertama kali diidentifikasi pada tahun 1998 di Malaysia, kemunculan wabah sporadis di wilayah Asia Selatan, khususnya India, baru-baru ini telah memicu alarm kewaspadaan bagi negara-negara tetangga, termasuk Indonesia.
Secara biologis, Virus Nipah merupakan virus RNA yang tergolong dalam genus Henipavirus. Inang alami dari virus ini adalah kelelawar buah dari genus Pteropus. Yang mengkhawatirkan adalah kelelawar ini tidak menunjukkan gejala sakit meskipun membawa virus tersebut. Virus kemudian dapat berpindah ke hewan perantara, seperti babi, sebelum akhirnya menginfeksi manusia. Penularan ke manusia juga bisa terjadi melalui konsumsi makanan yang telah terkontaminasi oleh cairan tubuh kelelawar, seperti urin atau air liur, yang sering ditemukan pada buah-buahan atau sadapan nira yang tidak bersih.
Gejala yang ditimbulkan oleh infeksi virus ini sangat berbahaya karena menyerang sistem saraf pusat. Pasien biasanya akan mengalami gejala awal yang mirip dengan flu, seperti demam tinggi, sakit kepala, dan nyeri otot. Namun, kondisi ini dapat memburuk dengan sangat cepat menjadi ensefalitis akut atau peradangan otak. Dalam fase kritis, penderita bisa mengalami penurunan kesadaran, kejang, hingga koma dalam waktu 24 hingga 48 jam. Angka fatalitas kasus ini sangat mengerikan, yakni berkisar antara 40% hingga 75%, jauh lebih tinggi dibandingkan banyak penyakit menular lainnya.

Hingga detik ini, tantangan terbesar dalam menghadapi Virus Nipah adalah belum tersedianya vaksin atau obat-obatan spesifik yang mampu menyembuhkan infeksi tersebut. Pengobatan yang diberikan kepada pasien saat ini masih bersifat suportif, yakni hanya untuk meredakan gejala dan menjaga fungsi organ tubuh agar tetap stabil. Oleh karena itu, langkah pencegahan menjadi satu-satunya benteng pertahanan utama.
Di Indonesia, meski belum ada kasus terkonfirmasi, Kementerian Kesehatan telah mengambil langkah proaktif dengan mengeluarkan surat edaran kewaspadaan. Masyarakat diimbau untuk selalu mencuci bersih buah-buahan sebelum dikonsumsi, menghindari kontak dengan hewan liar, dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Kesiapsiagaan di pintu-pintu masuk negara dan fasilitas kesehatan terus ditingkatkan demi memastikan bahwa potensi wabah dapat dideteksi dan dimitigasi sedini mungkin. Kewaspadaan kolektif antara pemerintah dan masyarakat adalah kunci untuk menghadapi ancaman virus mematikan ini.







