Connect with us

Lifestyle

Menakar Ulang Wajah Demokrasi: Gelombang Aktivisme Gen Z di Era Siber

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari KOMPAS.com, Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, wajah demokrasi Indonesia sedang mengalami metamorfosis yang signifikan, didorong oleh denyut nadi aktivitas Generasi Z (Gen Z) di ruang digital.

Fajar Setyaning Dwi Putra, dalam ulasannya, menyoroti bahwa generasi ini tidak lagi menempatkan diri sebagai objek pasif yang sekadar menerima kebijakan negara. Sebaliknya, mereka telah bertransformasi menjadi aktor politik yang sangat aktif, menjadikan gawai dan media sosial sebagai podium baru untuk menyuarakan aspirasi, memproduksi wacana tandingan, hingga memberikan tekanan publik yang nyata terhadap elit penguasa.

Ini menandai lahirnya era “demokrasi siber,” di mana internet bukan lagi sekadar barang mewah, melainkan infrastruktur dasar yang membentuk identitas, relasi sosial, dan kesadaran politik kaum muda.

Pergeseran ini terlihat jelas dari metode penyampaian aspirasi. Jika dahulu aktivisme identik dengan orasi di mimbar jalanan atau ruang rapat formal, kini Gen Z lebih nyaman menggunakan “bahasa” mereka sendiri: utas di media sosial, meme satir, video singkat, dan siaran langsung. Mereka memiliki kemampuan unik untuk “menerjemahkan” bahasa birokrasi yang kaku dan rumit menjadi narasi visual yang emosional dan mudah dicerna oleh publik luas.

Fenomena ini telah terbukti efektif dalam berbagai momen krusial di Indonesia, mulai dari penolakan terhadap rancangan undang-undang kontroversial, kritik terhadap sistem pendidikan, hingga advokasi isu lingkungan. Setiap akun media sosial kini berfungsi layaknya mimbar bebas, memungkinkan mereka yang terpinggirkan untuk turut serta dalam diskursus publik dan memaksa para pembuat kebijakan untuk merespons, setidaknya di level wacana.

Namun, Fajar juga memberikan catatan kritis bahwa demokrasi siber ini ibarat pedang bermata dua. Kecepatan arus informasi yang menjadi ciri khas dunia digital sering kali mengaburkan batas antara fakta (data), opini pribadi, dan luapan emosi semata. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah kualitas deliberasi atau perdebatan publik. Algoritma media sosial cenderung menciptakan ruang gema (echo chambers) yang memperkuat pandangan seragam dan mempolarisasi masyarakat dalam dikotomi hitam-putih.

Hal ini berisiko menyederhanakan isu-isu kompleks dan menghilangkan nuansa penting dalam sebuah kebijakan, yang pada akhirnya dapat mempersempit ruang dialog yang sehat dan rasional. Selain itu, ada risiko aktivisme yang hanya berhenti pada “viralitas” sesaat tanpa adanya tindak lanjut advokasi yang strategis dan berkelanjutan di ranah institusional yang bekerja dengan logika regulasi dan kompromi.

Ke depan, tantangan utama bagi Gen Z bukan lagi tentang keberanian untuk bersuara, melainkan kedewasaan dalam mengelola suara tersebut agar tidak terjebak dalam aktivisme performatif yang hanya mementingkan citra. Munculnya pola “aktivisme hibrida” yang menggabungkan kampanye digital dengan kajian berbasis data dan kolaborasi dengan organisasi sipil menjadi secercah harapan.

Ini menunjukkan kesadaran bahwa perubahan kebijakan tidak bisa hanya mengandalkan tekanan massa maya, tetapi juga membutuhkan argumentasi solid. Oleh karena itu, pendidikan literasi digital dan politik menjadi kunci krusial agar partisipasi politik ini tidak berakhir sebagai euforia sesaat, melainkan menjadi energi korektif yang konstruktif bagi masa depan demokrasi Indonesia yang lebih adil.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *