Blog
Membongkar Mitos: Menelusuri Fakta di Balik Tuduhan Viral Es Gabus Berbahan Spons
Semarang ( usmnews ) – Dikutip dari Kompas.com Di era digital ini, misinformasi mengenai keamanan pangan sering kali menyebar dengan cepat dan memicu kekhawatiran publik. Salah satu kasus terbaru yang menjadi sorotan hangat di media sosial adalah video viral yang menuding jajanan tradisional “es kue” atau yang lebih dikenal dengan “es gabus” di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, terbuat dari bahan berbahaya menyerupai spons. Kecurigaan ini bermula dari pengamatan visual semata, di mana tekstur es yang berpori dan kenyal dianggap tidak lazim bagi sebagian warganet, sehingga memicu spekulasi liar bahwa makanan tersebut mengandung bahan non-pangan.
Kronologi Kecurigaan dan Penyelidikan Kepolisian
Kehebohan ini berawal dari laporan seorang warga di Utan Panjang III, Kemayoran, pada Sabtu (24/1/2026). Warga tersebut merasa was-was dan melaporkan dugaan penjualan makanan berbahaya tersebut melalui layanan panggilan darurat kepolisian 110. Merespons laporan ini dengan serius, aparat kepolisian segera turun tangan untuk melakukan investigasi dan mengambil sampel es kue gabus tersebut guna memastikan keamanan pangan bagi masyarakat.
Setelah melalui serangkaian pemeriksaan laboratorium awal maupun lanjutan, hasilnya membawa kelegaan. Pihak berwenang menyatakan secara resmi bahwa es kue gabus tersebut aman dan layak dikonsumsi. Tidak ditemukan jejak bahan berbahaya seperti spons atau Polyurethane Foam (PU Foam) seperti yang dituduhkan. Temuan ini menegaskan bahwa kekhawatiran yang beredar hanyalah akibat kesalahpahaman terhadap karakteristik unik jajanan tersebut.
Apa Itu Es Gabus Sebenarnya?
Di balik kontroversi viral ini, penting untuk memahami kembali apa sebenarnya es gabus itu. Es gabus, atau es kue, adalah jajanan tradisional Nusantara yang telah lama dikenal, terutama oleh generasi 90-an. Namanya yang unik—menggunakan kata “gabus”—bukanlah merujuk pada bahan baku styrofoam atau spons, melainkan merupakan deskripsi harfiah dari teksturnya. Saat digigit, es ini memang memberikan sensasi ringan, empuk, dan sedikit berpori, mirip dengan tekstur gabus, namun tentu saja terbuat dari bahan makanan yang aman.
Secara visual, jajanan ini sangat mudah dikenali. Umumnya berbentuk balok-balok persegi panjang yang dipotong menjadi ukuran siap makan. Daya tarik utamanya terletak pada warnanya yang cerah dan sering kali berlapis-lapis layaknya pelangi, seperti kombinasi merah muda, hijau, dan cokelat, yang berasal dari pewarna makanan yang aman. Es ini biasanya dijual dengan cara sederhana, dibungkus plastik bening tanpa menggunakan stik kayu, dan dijajakan keliling di perumahan atau sekolah-sekolah.
Bahan Alami dan Proses Pembuatan
Fakta ilmiah di balik tekstur “spons” yang disalahpahami tersebut sebenarnya berasal dari proses kimiawi bahan-bahan alaminya. Es gabus dibuat dari bahan dasar tepung hunkwe (tepung kacang hijau), sagu, atau tapioka yang dicampur dengan santan kelapa, gula pasir, dan air. Untuk menambah aroma, pedagang sering menambahkan vanili atau perisa makanan lainnya.
Proses pembuatannya dimulai dengan memasak adonan tepung dan santan tersebut di atas api hingga mengental seperti bubur padat. Adonan panas ini kemudian dituangkan ke dalam loyang cetakan dan didiamkan hingga dingin dan memadat. Setelah itu, adonan yang sudah padat dipotong-potong dan dibekukan di dalam freezer. Proses pembekuan inilah yang mengubah struktur pati dalam tepung menjadi kristal es halus yang terperangkap dalam jaringan padat, menciptakan tekstur khas yang kenyal namun ringan dan berpori saat digigit—sebuah karakteristik fisik yang sayangnya disalahartikan sebagai bahan spons oleh mereka yang mungkin belum familiar dengan kuliner klasik ini.