Lifestyle
Meluruskan Mitos Cuaca: BMKG Tegaskan Teknologi Modifikasi Cuaca Bukan “Pawang” Pemindah Hujan Maupun Pemicu Banjir
Semarang (usmnews) – Di tengah tingginya intensitas curah hujan yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Barat dan sekitarnya pada awal tahun 2026, muncul berbagai spekulasi di tengah masyarakat mengenai penyebab fenomena tersebut.
Salah satu isu yang beredar luas adalah anggapan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)—atau yang dulunya dikenal sebagai Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC)—bertanggung jawab atas perpindahan hujan yang ekstrem ke wilayah tertentu hingga memicu banjir. Menanggapi keresahan dan kesimpangsiuran informasi ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan klarifikasi tegas dan penjelasan ilmiah yang mendetail.
BMKG secara resmi membantah narasi yang menyebutkan bahwa OMC memiliki kemampuan untuk “menggeser” atau memindahkan awan hujan dari satu lokasi ke lokasi lain layaknya memindahkan benda padat. Penjelasan ini sangat krusial untuk meluruskan pemahaman publik bahwa manusia memiliki kendali mutlak untuk menolak atau memindahkan hujan. Prinsip kerja OMC bukanlah melawan kehendak alam dengan memindahkan angin atau awan, melainkan melakukan intervensi terhadap proses fisika di dalam awan itu sendiri.
Secara teknis, OMC bekerja dengan cara menyemai bahan semai (biasanya berupa garam atau NaCl) ke dalam awan yang sudah existing atau sudah terbentuk secara alami. Tujuannya adalah untuk mempercepat proses kondensasi dan pertumbuhan butir air di dalam awan tersebut. Dalam konteks mitigasi banjir, OMC dilakukan dengan strategi “intersepsi” atau pencegatan. Awan-awan hujan yang bergerak menuju wilayah rawan banjir (seperti pusat kota yang padat penduduk) dicegat dan “dipaksa” untuk menjatuhkan hujannya lebih awal di wilayah yang lebih aman, seperti di atas lautan atau di area waduk yang membutuhkan pasokan air, sebelum awan tersebut masuk ke zona merah banjir.
Oleh karena itu, tuduhan bahwa OMC menjadi biang kerok penyebab banjir di wilayah penyangga adalah tidak berdasar.
Justru sebaliknya, OMC merupakan salah satu upaya mitigasi bencana hidrometeorologi yang dirancang untuk mengurangi risiko banjir dengan cara mengurangi intensitas hujan yang akan turun di lokasi rawan. Jika terjadi banjir di suatu wilayah, hal tersebut lebih disebabkan oleh faktor alamiah seperti tingginya curah hujan akibat fenomena atmosfer global (seperti La Nina atau Monsun Asia) serta kondisi lingkungan setempat, bukan karena dampak sampingan dari modifikasi cuaca.
BMKG mengajak masyarakat untuk lebih memahami cara kerja teknologi ini dan tidak mudah termakan isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. OMC adalah bentuk ikhtiar teknologi untuk meminimalkan dampak bencana, bukan untuk menciptakan bencana baru di tempat lain. Dengan pemahaman yang benar, diharapkan masyarakat tidak lagi menjadikan operasi modifikasi cuaca sebagai “kambing hitam” atas bencana banjir yang terjadi, melainkan melihatnya sebagai bagian dari strategi perlindungan lingkungan dan keselamatan publik.