Connect with us

Education

Melampaui Fokus: Mengapa Melamun dan Berbicara Sendiri Ternyata Menjadi Indikator Otak Cerdas

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip cnbcindonesia.com Dalam pandangan masyarakat umum, seseorang yang sering terlihat melamun atau berbicara dengan dirinya sendiri sering kali dinilai negatif. Kebiasaan ini kerap dianggap sebagai bentuk ketidaksiplinan, kurangnya konsentrasi, atau bahkan tanda adanya gangguan mental. Namun, temuan terbaru dalam dunia psikologi justru membalikkan stigma tersebut. Berdasarkan laporan yang dihimpun dari riset psikologi modern, perilaku-perilaku yang tampak “aneh” ini sebenarnya merupakan manifestasi dari fleksibilitas kognitif dan kapasitas intelektual yang tinggi jika terjadi dalam konteks yang tepat.

Kebiasaan pertama yang disoroti adalah mind-wandering atau membiarkan pikiran mengembara. Alih-alih dianggap sebagai kegagalan dalam memberikan perhatian, para ahli menemukan bahwa melamun secara sengaja berkorelasi erat dengan tingkat kreativitas yang lebih tinggi. Secara biologis, pencitraan otak menunjukkan bahwa saat seseorang melamun, terjadi koneksi yang sangat kuat antara jaringan kontrol eksekutif dan default mode network. Jaringan ini bertanggung jawab atas imajinasi dan pemikiran internal yang mendalam. Menariknya, individu yang sering melamun secara spontan justru memiliki kemampuan task-switching yang lebih lincah, yang berarti mereka mampu beralih dari satu tugas mental ke tugas lainnya dengan lebih cepat dibandingkan orang biasa. Hal ini membuktikan bahwa saat otak tampak “menganggur”, sebenarnya ia sedang melakukan pemrosesan informasi dan konsolidasi memori secara adaptif.

Kebiasaan kedua yang tidak kalah unik adalah berbicara dengan diri sendiri, baik secara lisan maupun melalui dialog batin (inner speech). Studi psikologi menunjukkan bahwa tindakan ini berperan krusial dalam regulasi diri, perencanaan, dan metakognisi. Orang yang sering berdialog dengan dirinya sendiri cenderung memiliki pemahaman diri yang lebih jernih dan kontrol perilaku yang lebih stabil. Dengan mengeksternalisasi pikiran, otak terbantu dalam menyusun ide-ide kompleks, merapikan kekacauan mental, dan memantau tujuan jangka panjang secara lebih efektif. Ini adalah alasan mengapa banyak orang secara tidak sadar berbicara sendiri saat sedang mencoba memecahkan masalah yang rumit.

Meski demikian, para psikolog memberikan catatan penting bahwa kedua kebiasaan ini harus tetap dalam kendali kesadaran. Melamun dan berbicara sendiri memberikan manfaat intelektual selama hal tersebut bersifat konstruktif dan tidak berubah menjadi kecemasan atau kritik diri yang berlebihan. Untuk mengoptimalkannya, seseorang disarankan untuk tetap memperhatikan konteks situasi, menggunakan dialog batin untuk perencanaan yang terstruktur, dan tetap memberikan jeda istirahat mental bagi otak. Pada akhirnya, apa yang selama ini kita anggap sebagai distraksi mungkin sebenarnya adalah cara unik otak kita bekerja untuk mencapai potensi maksimalnya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *