Education
Matematika Itu Menyenangkan: Upaya Pemerintah Hapus Stigma Pelajaran Sulit Lewat Pendekatan Baru

Semarang(Usmnews)– Dikutip dari kompas.com Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memberikan respons tegas terkait anjloknya nilai matematika siswa tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajat dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun 2025. Melalui Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru, Nunuk Suryani, pihak kementerian menegaskan bahwa solusi atas permasalahan ini bukanlah dengan merombak materi pembelajaran atau mengubah kurikulum yang ada. Nunuk menekankan bahwa materi dan capaian pembelajaran matematika di tingkat SMA sebenarnya sudah tercantum baku di dalam kurikulum nasional, sehingga substansi materi bukanlah akar dari permasalahan tersebut.
Diagnosis Akar Masalah: Pendekatan Pedagogis Menurut evaluasi Kemendikdasmen, titik lemah yang menyebabkan rendahnya kemampuan numerasi siswa terletak pada cara guru melakukan transformasi pendekatan pembelajaran di dalam kelas. Selama ini, terdapat kecenderungan bahwa pengajaran matematika langsung dimulai dari konsep-konsep abstrak yang sulit dicerna oleh siswa. Hal ini menciptakan jarak antara materi pelajaran dengan pemahaman siswa.

Oleh karena itu, Nunuk Suryani menyarankan adanya perubahan paradigma dalam penyampaian materi. Solusi yang ditawarkan adalah transformasi metode pengajaran yang lebih kontekstual. Guru didorong untuk memulai pembelajaran matematika dengan pendekatan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa (daily life approach). Setelah siswa memahami relevansi dan konteks nyatanya, barulah guru membimbing mereka masuk ke dalam konsep-konsep matematika yang lebih mendalam. Dengan strategi ini, matematika tidak lagi dipandang sebagai deretan angka abstrak, melainkan alat yang relevan untuk memecahkan masalah nyata.
Langkah Strategis: Pelatihan Berjenjang dan Fokus Fondasi Sebagai langkah konkret untuk memperbaiki kualitas pengajaran ini, Kemendikdasmen telah menginisiasi program bimbingan teknis (Bimtek) bertajuk “Numerasi Matematika Gembira”. Program ini dirancang dengan skema diseminasi berjenjang. Saat ini, pemerintah telah melatih 300 fasilitator tingkat nasional dan 2.840 fasilitator daerah. Para fasilitator inilah yang nantinya bertugas menularkan ilmu dan metode pengajaran baru tersebut kepada guru-guru di sekolah masing-masing.
Namun, Nunuk mengakui bahwa untuk tahap awal, fokus pelatihan ini masih diprioritaskan bagi guru-guru di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Dasar (SD). Hal ini didasari oleh pemikiran bahwa penguatan fondasi numerasi di tingkat dasar sangat krusial untuk menyiapkan generasi pembelajar yang baik di masa depan. Sementara itu, diseminasi pelatihan untuk guru jenjang SMP dan SMA diproyeksikan baru akan dimulai secara bertahap sekitar tahun 2027, mengingat banyaknya jumlah guru yang harus dijangkau.

Sorotan Menteri: Buku dan Persepsi Siswa Isu mengenai rendahnya nilai matematika ini sebelumnya telah diungkapkan secara terbuka oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti. Dalam pembukaan Musyawarah Nasional Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), Mu’ti menyoroti bahwa nilai matematika pada TKA 2025 tergolong sangat buruk (“jeblok”).
Abdul Mu’ti menganalisis bahwa selain faktor metode pengajaran, kualitas buku ajar juga memegang peranan penting. Ia menduga buku-buku yang digunakan selama ini kurang menarik dan metode penyampaian guru tidak berhasil memantik rasa ingin tahu siswa. Akibatnya, terbangun stigma di kalangan siswa bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit dan menakutkan.
Untuk mengatasi hambatan psikologis dan teknis tersebut, pemerintah kini tengah berupaya mengembangkan strategi baru agar siswa dapat lebih mencintai pelajaran bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM). Salah satu upayanya adalah dengan menyediakan buku-buku sains dan matematika yang dikemas dengan cara yang mudah dipahami, berbiaya murah, serta menyenangkan untuk dibaca, guna meningkatkan minat dan kemampuan numerasi siswa Indonesia secara menyeluruh.







