Nasional

Makna Tradisi Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Published

on

Semarang(usmnews)- Baru-baru ini, publik dikejutkan sekaligus dibuat penasaran oleh sebuah peristiwa budaya yang melibatkan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi). Dalam sebuah rangkaian prosesi adat yang berlangsung di Provinsi Lampung pada hari Minggu, 28 Juni 2026, Jokowi terlihat melakukan ritual menginjak kepala kerbau di atas hamparan karpet berwarna merah. Momen sakral ini tak pelak mengundang berbagai reaksi, opini, dan interpretasi dari masyarakat luas. Untuk mencegah timbulnya kesalahpahaman serta asumsi liar di tengah suasana yang masih kental dengan dinamika sosial-politik, seorang pemuka adat terkemuka setempat akhirnya angkat bicara demi meluruskan persepsi publik.

Tokoh Adat Lampung Pepadun yang bergelar Suttan Seghayo Dipuncak Nur, yakni Mawardi Harirama, secara tegas memberikan penjelasan mengenai makna sebenarnya dari ritual tersebut. Mawardi mengimbau dengan sangat agar segenap lapisan masyarakat tidak serta-merta mengaitkan tradisi luhur yang telah diwariskan oleh para leluhur ini dengan agenda, kelompok, atau kepentingan politik praktis apa pun. Beliau menekankan bahwa tindakan menempatkan jari kaki di atas kepala kerbau tersebut sejatinya merupakan bagian tak terpisahkan dari upacara adat besar yang dikenal dengan sebutan Begawi Cakak Pepadun atau Munggah Bumi. Ini adalah sebuah warisan budaya yang memiliki nilai historis dan spiritual yang sangat dalam bagi masyarakat adat Lampung.

Lebih lanjut, Mawardi membedah filosofi di balik ritual tersebut. Beliau menerangkan bahwa secara esensial, prosesi menginjak kepala kerbau menyimpan pesan moral yang sangat kuat sebagai simbol purifikasi atau penyucian diri. Ritual ini melambangkan upaya sadar seorang manusia untuk menekan dan menghilangkan sifat-sifat kebinatangan yang mungkin bersarang di dalam jiwa. Sifat-sifat buruk tersebut mencakup kesombongan, rasa iri, dengki, ketamakan, serta berbagai tabiat tercela lainnya. Melalui prosesi ini, seorang tokoh yang dianugerahi gelar adat diharapkan mampu menjadi sosok pemimpin yang bersih dari ego negatif dan senantiasa mengedepankan kebijaksanaan. Oleh karena itu, Mawardi kembali menegaskan bahwa tindakan ini murni merupakan representasi dari ajaran budi pekerti, dan tidak ada korelasi atau benang merahnya dengan konstelasi politik.

Di samping itu, Mawardi juga memberikan pencerahan terkait dugaan miring yang menyebut bahwa ritual tersebut merupakan bentuk pelecehan atau penghinaan terhadap makhluk hidup, khususnya hewan kerbau. Beliau menepis pandangan keliru tersebut dan menyatakan bahwa peletakan kaki di atas kepala hewan kurban adalah murni simbolisme penghormatan adat yang telah dipraktikkan secara turun-temurun sejak zaman dahulu dalam setiap prosesi penganugerahan gelar kehormatan.

Tak hanya masalah kerbau, sang pemuka adat juga menyoroti perdebatan mengenai nuansa warna merah yang mendominasi lokasi acara. Beberapa pihak sempat berspekulasi dan mengaitkan warna karpet merah tersebut dengan identitas partai politik tertentu. Merespons hal ini, Mawardi menjelaskan secara gamblang bahwa ornamen di Kedatun Keagungan memang pada dasarnya bernuansa merah. Seluruh area, mulai dari anak tangga hingga jalan setapak yang menuju ke arah museum, semuanya memang dilapisi oleh karpet merah sebagai bagian dari estetika adat setempat. Dengan demikian, tudingan bahwa warna merah tersebut sengaja disiapkan untuk merepresentasikan kelompok politik adalah hal yang sama sekali tidak berdasar.

Pada akhir prosesi adat yang penuh makna dan filosofi tersebut, Joko Widodo secara resmi dianugerahi gelar kehormatan adat Lampung yang berbunyi “Baginda Pemuka Bangsa”. Melalui penganugerahan gelar ini serta penjelasan komprehensif dari tokoh adat, diharapkan masyarakat dapat lebih bijaksana dalam melihat sebuah peristiwa kebudayaan, yakni dengan mengedepankan penghargaan terhadap kearifan lokal Nusantara tanpa harus selalu mengaitkannya dengan sentimen politik.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version