International
Krisis Pangan Iran: Harga Minyak Goreng Meroket Tiga Kali Lipat di Tengah Ketidakberdayaan Pemerintah

Semarang (usmnews) – Dikutip dari sindo.news Iran kini tengah dicengkeram oleh salah satu krisis ekonomi terburuk dalam sejarah modernnya, yang ditandai dengan lonjakan harga kebutuhan pokok secara brutal. Laporan terbaru menyoroti bahwa harga minyak goreng di pasaran telah melambung hingga tiga kali lipat dari harga normal. Kenaikan drastis ini menjadi simbol nyata dari kegagalan pemerintah Iran dalam menstabilkan ekonomi yang terus merosot tajam, memicu kepanikan dan kemarahan di kalangan masyarakat luas.
Lonjakan Harga dan Penghapusan Subsidi.
Pemicu utama dari ledakan harga ini adalah keputusan pemerintah untuk merombak sistem subsidi pangan yang selama ini menopang daya beli rakyat. Dalam langkah yang disebut sebagai “bedah ekonomi”, pemerintah mencabut subsidi untuk barang-barang impor esensial, termasuk gandum, tepung, dan bahan baku minyak goreng. Akibatnya, harga-harga langsung melonjak semalam. Minyak goreng, yang merupakan komponen vital dalam masakan sehari-hari, menjadi barang langka. Di berbagai kota, rak-rak toko terlihat kosong melompong karena warga melakukan panic buying atau karena distributor menahan stok di tengah ketidakpastian harga.
Pemerintah “Angkat Tangan” Hadapi Ekonomi

Hal tersebut menggarisbawahi nada pesimisme yang kuat mengenai kemampuan Teheran untuk membalikkan keadaan. Pemerintah Iran dinilai tidak berdaya menghadapi badai inflasi yang kini diperparah oleh sanksi internasional yang melumpuhkan dan salah urus manajemen dalam negeri. Mata uang Iran, Rial, telah kehilangan sebagian besar nilainya terhadap dolar AS, membuat biaya impor bahan pangan menjadi sangat mahal. Pejabat pemerintah mengakui bahwa mereka menghadapi kendala berat, namun bagi rakyat biasa, penjelasan tersebut tidak bisa mengisi perut yang lapar. Janji-janji bantuan tunai sebagai pengganti subsidi barang dianggap tidak memadai untuk menutupi kenaikan biaya hidup yang menggila.
Dampak Sosial: Antrean Panjang dan Protes Warga
Kenaikan harga minyak goreng hanyalah puncak gunung es. Barang kebutuhan lain seperti ayam, telur, dan produk susu juga mengalami kenaikan harga yang mencekik. Situasi ini telah memicu kerusuhan sosial di beberapa provinsi. Warga yang frustrasi turun ke jalan, memprotes ketidakmampuan rezim dalam menjamin ketahanan pangan. Pemandangan antrean panjang warga yang mengular hanya untuk mendapatkan sebotol minyak goreng atau sekantung tepung kini menjadi pemandangan umum yang menyedihkan. Lingkaran Setan Inflasi. Para analis ekonomi menilai bahwa Iran terjebak dalam lingkaran setan inflasi. Dengan kas negara yang menipis akibat sanksi minyak, pemerintah tidak memiliki banyak amunisi untuk melakukan intervensi pasar. Kenaikan harga “3 kali lipat” ini bukan sekadar angka statistik, melainkan representasi dari hilangnya jaring pengaman sosial bagi jutaan keluarga di Iran yang kini terancam jatuh ke bawah garis kemiskinan. Tanpa solusi komprehensif dan pencabutan sanksi, diperkirakan penderitaan ekonomi ini akan terus berlanjut, dengan minyak goreng menjadi simbol kemewahan baru di tengah krisis yang tak berujung.







