Nasional
Kepanikan Warga Yogyakarta Saat Gempa Magnitudo 4,5 Melanda Siang Hari
Semarang (usmnews) – Dikutip dari cnnindonesia.com Pada hari Selasa, 27 Januari, ketenangan siang hari di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terusik oleh aktivitas seismik yang cukup mengejutkan. Sebuah gempa bumi tektonik dengan kekuatan Magnitudo (M) 4,5 mengguncang Kabupaten Bantul dan sekitarnya tepat pada pukul 13.15 WIB. Meskipun magnitudo gempa ini tergolong menengah, dampaknya cukup signifikan hingga memicu kepanikan di berbagai lokasi, memaksa warga untuk segera mengevakuasi diri keluar dari bangunan demi keselamatan.
Kesaksian Warga dan Suasana Kepanikan
Dampak psikologis dari guncangan ini sangat terasa di kalangan masyarakat yang sedang beraktivitas. Novan Dwi Setiyanto, seorang pegawai swasta yang berkantor di Kota Yogyakarta, memberikan kesaksian mengenai betapa kuatnya getaran yang dirasakan. Menurut Novan, meskipun durasi gempa terbilang singkat hanya beberapa detik intensitasnya cukup untuk membuat tubuh terasa seolah-olah didorong dengan kuat. Situasi di tempat kerjanya pun berubah menjadi gaduh seketika, sebagian besar rekan kerjanya merespons guncangan tersebut dengan berlarian keluar kantor untuk mencari tempat terbuka, meskipun Novan sendiri memilih untuk tetap bertahan di dalam.
Kepanikan serupa juga terekam di tempat umum lainnya. Seto Pangaribowo, yang saat itu sedang berada di sebuah kafe di Yogyakarta, menceritakan bagaimana suasana santai berubah menjadi kekacauan kecil. Pengunjung kafe yang terkejut merasakan getaran tersebut membuat suasana menjadi riuh rendah. Seto mengakui bahwa dirinya nyaris ikut berlari keluar karena kaget melihat respons teman-temannya dan pengunjung lain.
Di sisi lain, cerita berbeda datang dari wilayah pemukiman. Tria, seorang warga Seyegan, Kabupaten Sleman, mengalami momen menegangkan karena merasakan gempa saat sedang berada di kamar mandi. Kondisi tersebut membuatnya tidak sempat untuk segera lari menyelamatkan diri. Namun, ia mendengar dan mengetahui bahwa para tetangga di sekitar rumahnya telah berhamburan keluar rumah sebagai respons naluriah terhadap guncangan bumi yang terjadi.
Analisis Geologis BMKG: Aktivitas Sesar Opak
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), melalui Kepala Stasiun Geofisika Sleman, Ardhianto Septiadhi, memberikan penjelasan teknis mengenai fenomena ini. Berdasarkan analisis pemutakhiran data, gempa ini dipastikan memiliki parameter Magnitudo 4,5.
Pusat gempa atau episenter teridentifikasi berada di darat, tepatnya pada koordinat 7,87 derajat Lintang Selatan (LS) dan 110,49 derajat Bujur Timur (BT). Lokasi ini berjarak sekitar 16 kilometer arah timur Kabupaten Bantul, DIY. Salah satu faktor kunci yang membuat gempa ini dirasakan cukup kuat adalah kedalamannya yang sangat dangkal, yakni hanya 11 kilometer. Ardhianto menegaskan bahwa gempa ini merupakan jenis gempa bumi dangkal yang dipicu oleh aktivitas Sesar Opak, sebuah patahan geologi yang memang aktif di wilayah tersebut.
Sebaran Wilayah Terdampak dan Skala Intensitas
Getaran dari aktivitas Sesar Opak ini menjalar ke wilayah yang cukup luas di Jawa bagian tengah. Tingkat guncangan yang dirasakan bervariasi berdasarkan jarak dari episenter:
- Skala Intensitas III MMI: Dirasakan di Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, Sleman, Kota Yogyakarta, dan Klaten. Pada skala ini, getaran dirasakan nyata di dalam rumah, dengan sensasi seakan-akan ada truk bermuatan berat yang sedang melintas di dekat bangunan.
- Skala Intensitas II MMI: Guncangan yang lebih lemah dirasakan hingga ke wilayah Wonogiri, Purworejo, Trenggalek, Solo, Pacitan, dan Magelang. Pada tingkat ini, getaran umumnya hanya dirasakan oleh beberapa orang dan ditandai dengan benda-benda ringan yang digantung bergoyang.
Status Keamanan Pasca-Gempa
Meskipun sempat menimbulkan kepanikan yang meluas, pihak berwenang membawa kabar yang cukup melegakan. Ardhianto Septiadhi menyatakan bahwa hasil pemodelan menunjukkan gempa bumi ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Selain itu, hingga laporan ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan fisik pada bangunan maupun infrastruktur akibat guncangan tersebut. Situasi dinilai masih kondusif, namun warga tetap diimbau untuk waspada terhadap potensi gempa susulan.