Connect with us

Lifestyle

Kenali Bedanya Ketombe dan Psoriasis Agar Tidak Salah Penanganan

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari cnnindonesia.com Seringkali, munculnya serpihan putih yang jatuh ke bahu atau menempel pada pakaian dianggap sepele sebagai masalah ketombe biasa. Rasa gatal yang menyertainya pun sering dianggap sebagai akibat dari kurang menjaga kebersihan rambut. Namun, tahukah Anda bahwa gejala tersebut bisa jadi merupakan tanda dari kondisi medis yang lebih serius, yaitu psoriasis? Meskipun sekilas terlihat serupa karena sama-sama menyebabkan kulit kepala gatal dan mengelupas, ketombe dan psoriasis memiliki akar penyebab, karakteristik, dan penanganan yang sangat berbeda. Memahami perbedaan keduanya sangat krusial agar Anda tidak salah mengambil langkah pengobatan.

‎Memahami Akar Masalah: Ketombe vs Psoriasis Ketombe pada dasarnya adalah masalah kulit yang sangat umum dan bisa dialami siapa saja. Melansir dari WebMD, kondisi ini bisa dipicu oleh berbagai faktor eksternal maupun internal yang relatif ringan. Penyebab utamanya seringkali berkaitan dengan dermatitis seboroik (kulit kepala yang terlalu berminyak dan iritasi), dermatitis kontak (alergi terhadap produk sampo atau perawatan rambut), hingga infeksi jamur malassezia. Faktor gaya hidup seperti jarang berkeramas, kulit kepala yang terlalu kering, atau penurunan sistem kekebalan tubuh juga turut berkontribusi.

‎Sebaliknya, psoriasis adalah kondisi yang jauh lebih kompleks. Mengutip GoodRX, psoriasis dikategorikan sebagai penyakit autoimun. Dalam kondisi ini, sistem kekebalan tubuh bekerja terlalu aktif dan mengirimkan sinyal yang salah, menyebabkan sel-sel kulit beregenerasi dan tumbuh jauh lebih cepat dari siklus normal. Akibatnya, sel-sel kulit mati menumpuk di permukaan membentuk bercak tebal, merah, dan bersisik yang sepintas menyerupai ketombe parah.

‎Perbedaan Karakteristik Fisik dan Gejala Untuk membedakannya secara kasat mata, Anda perlu memperhatikan detail serpihan dan kondisi kulitnya:

  • ‎Warna dan Tekstur: Ketombe biasanya berupa serpihan kecil berwarna putih atau kekuningan yang cenderung berminyak. Psoriasis memiliki tampilan yang berbeda tergantung warna kulit; pada kulit terang, ia tampak sebagai bercak kemerahan atau pink dengan sisik perak, sedangkan pada kulit gelap, bercak tersebut bisa berwarna ungu atau cokelat.
  • Dampak pada Rambut: Ketombe umumnya tidak menyebabkan kebotakan. Namun, psoriasis bisa memicu kerontokan rambut di area yang terdampak parah.
  • Sensasi Rasa: Gatal pada ketombe biasanya berada di tingkat ringan hingga sedang. Psoriasis menghadirkan sensasi yang lebih ekstrem, seperti rasa terbakar, nyeri, hingga kulit yang mudah berdarah jika digaruk terlalu keras.

‎Penyebaran Lokasi (Area Terdampak) Lokasi kemunculan juga menjadi petunjuk penting. Ketombe adalah masalah yang sangat terlokalisasi, umumnya hanya ditemukan di kulit kepala, atau pada pria bisa muncul di area berambut lain seperti alis, kumis, dan jenggot.

‎Di sisi lain, psoriasis memiliki sifat menyebar. Bercak psoriasis di kepala seringkali “tumpah” melewati garis rambut hingga terlihat di dahi, belakang leher, dan area sekitar telinga. Karena ini adalah penyakit sistemik, bercak serupa seringkali juga ditemukan di bagian tubuh lain yang tidak berambut, seperti siku, lutut, telapak tangan, atau punggung.

‎Pendekatan Pengobatan yang Berbeda Karena penyebabnya berbeda, solusinya pun tak sama. Ketombe relatif mudah diatasi dengan produk yang dijual bebas (OTC). Anda cukup mencari sampo anti-ketombe yang mengandung bahan aktif seperti ketoconazole, salicylic acid, selenium sulfide, sulfur, tar, atau zinc pyrithione. Jika penggunaan rutin tidak membuahkan hasil, barulah disarankan ke dokter kulit.

‎Sementara itu, psoriasis belum memiliki obat penyembuh total hingga saat ini. Penanganan medis difokuskan pada manajemen gejala untuk meredakan peradangan dan memperlambat pertumbuhan sel kulit. Oleh karena itu, jika sampo anti-ketombe biasa tidak meredakan gejala Anda, atau jika Anda merasakan nyeri dan sensasi terbakar, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan resep obat yang tepat guna mengendalikan kondisi autoimun tersebut.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *