Sports
Kekecewaan Mendalam Frenkie de Jong Terhadap Kepemimpinan Wasit Usai Rekor Kemenangan Barcelona Terhenti
Semarang (usmnews) – Dikutip dari Kompas.com Rentetan hasil positif Barcelona yang memukau akhirnya harus terhenti di Anoeta. Setelah mencatatkan 11 kemenangan beruntun di semua kompetisi, raksasa Catalan tersebut harus menelan pil pahit kekalahan 1-2 dari Real Sociedad pada laga pekan ke-20 Liga Spanyol, Senin (19/1/2026) dini hari WIB. Hasil ini tidak hanya memutus tren kemenangan skuad asuhan Hansi Flick, tetapi juga membuat persaingan di papan atas klasemen La Liga semakin memanas, di mana selisih poin antara Barcelona dengan rival abadi mereka, Real Madrid, kini menipis menjadi hanya satu poin.
Pasca-pertandingan, sorotan utama tidak hanya tertuju pada skor akhir, melainkan pada luapan frustrasi gelandang sekaligus kapten Barcelona, Frenkie de Jong. Pemain timnas Belanda tersebut secara terbuka melayangkan kritik tajam terhadap kinerja wasit Jesus Gil Manzano yang memimpin jalannya laga. De Jong merasa keputusan-keputusan sang pengadil lapangan sangat merugikan timnya, terutama terkait manajemen waktu di momen-momen krusial akhir pertandingan.
Salah satu poin utama kemarahan De Jong adalah pembiaran wasit terhadap taktik membuang-buang waktu yang dilakukan oleh kiper Real Sociedad, Alex Remiro. Menurut De Jong, Remiro kerap memakan waktu hingga satu menit hanya untuk melakukan tendangan gawang. Ironisnya, alih-alih memberikan tambahan waktu yang proporsional atau memberikan peringatan tegas, wasit Gil Manzano justru tidak menambahkan waktu sepadan—bahkan tidak sampai 10 detik—untuk mengganti waktu yang terbuang tersebut. Situasi semakin memanas ketika De Jong, yang mencoba menyampaikan protesnya sebagai kapten tim, justru diganjar kartu kuning oleh wasit.
De Jong menggambarkan sikap wasit Gil Manzano sebagai sesuatu yang “gila” dan arogan. Ia mengungkapkan kekecewaannya karena merasa tidak bisa berkomunikasi secara wajar dengan wasit, meskipun ia mengenakan ban kapten yang seharusnya memberinya hak untuk berdiskusi. De Jong menuturkan bahwa Manzano menatapnya dengan tatapan merendahkan, seolah ingin menunjukkan superioritas dengan sikap “saya lebih tinggi dari kamu”. Sikap antipati inilah yang membuat De Jong merasa sangat frustrasi, mengingat kejadian serupa pernah ia alami dengan wasit yang sama di tempat yang sama pada tahun sebelumnya.
Selain masalah waktu dan sikap wasit, De Jong juga menyinggung insiden gol Lamine Yamal yang dianulir karena offside. Meskipun ia mengaku belum melihat tayangan ulangnya secara langsung dan hanya mendengar kabar bahwa posisi tersebut sebenarnya onside, ia berusaha tetap objektif dengan mengatakan bahwa jika memang offside, maka keputusan itu harus diterima. Namun, keraguan tetap tersirat dari pernyataannya mengenai validitas keputusan tersebut.
Terlepas dari kontroversi wasit, De Jong tetap memberikan evaluasi objektif mengenai performa timnya. Ia meyakini bahwa Barcelona sejatinya bermain cukup baik dan mendominasi jalannya laga. Banyak peluang emas tercipta, namun penyelesaian akhir yang kurang klinis menjadi kendala utama. Ia juga secara sportif memuji penampilan gemilang kiper lawan, Alex Remiro, yang tercatat melakukan delapan penyelamatan krusial, yang menjadi faktor penentu kegagalan Barcelona membawa pulang poin. Gol-gol dari Mikel Oyarzabal dan Goncalo Guedes bagi Sociedad akhirnya menjadi penentu nasib Barcelona malam itu, meninggalkan De Jong dan rekan-rekannya dengan rasa kecewa yang mendalam, baik terhadap hasil maupun kepemimpinan di lapangan.