Nasional
Kaitan Erat Rumah Tidak Layak Huni dengan Ancaman Stunting dan TBC pada Anak di Indonesia
Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompaa.com Isu kesehatan nasional, khususnya mengenai stunting (tengkes) dan penyebaran penyakit menular seperti Tuberkulosis (TBC), kini mendapatkan sorotan tajam dari sudut pandang infrastruktur hunian. Dalam sebuah pemaparan yang dilansir oleh Kompas Properti pada Maret 2026, Hashim Djojohadikusumo, yang dikenal sebagai tokoh pengusaha sekaligus adik dari Presiden Prabowo Subianto, menegaskan bahwa akar permasalahan kesehatan anak-anak di Indonesia salah satunya bersumber dari kondisi rumah yang kumuh dan tidak layak huni.
Rumah Kumuh sebagai Sarang Penyakit
Hashim menjelaskan bahwa lingkungan tempat tinggal yang buruk memiliki dampak domino terhadap tumbuh kembang anak. Rumah yang masuk dalam kategori kumuh biasanya memiliki ciri-ciri sanitasi yang buruk, kurangnya akses air bersih, ventilasi udara yang tidak memadai, serta pencahayaan alami yang minim. Kondisi lembap dan sirkulasi udara yang tidak lancar inilah yang menjadi faktor utama tingginya angka penularan TBC pada anak-anak. Bakteri penyebab TBC sangat mudah berkembang biak di ruangan yang gelap dan pengap, yang sayangnya masih banyak ditemukan di kawasan padat penduduk di berbagai kota besar maupun pedesaan di Indonesia.
Korelasi Hunian Buruk dengan Angka Stunting
Selain masalah pernapasan, Hashim menyoroti bahwa rumah yang tidak layak huni merupakan kontributor nyata terhadap tingginya angka stunting. Anak-anak yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi buruk cenderung lebih sering mengalami infeksi berulang, seperti diare. Infeksi yang terjadi terus-menerus ini menyebabkan penyerapan nutrisi dalam tubuh anak menjadi tidak optimal, meskipun mereka mungkin mendapatkan asupan makanan yang cukup. Akibatnya, pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak terhambat, yang pada akhirnya memicu kondisi stunting.
Visi Pembangunan 3 Juta Rumah per Tahun
Menyikapi realitas pahit tersebut, Hashim menekankan pentingnya realisasi program pembangunan 3 juta rumah per tahun yang dicanangkan oleh pemerintah. Menurutnya, pembangunan rumah ini bukan sekadar proyek infrastruktur fisik atau pencapaian target ekonomi semata, melainkan sebuah investasi besar dalam bidang kesehatan dan sumber daya manusia (SDM) masa depan.
Rincian dari target tersebut mencakup:
1. 2 juta rumah di pedesaan: Fokus pada perbaikan kualitas hidup masyarakat desa agar tidak tertinggal.
2. 1 juta apartemen atau hunian vertikal di perkotaan: Solusi untuk mengatasi keterbatasan lahan di kota besar sekaligus menata kawasan kumuh menjadi lebih sehat dan teratur.
Transformasi Sosial melalui Perumahan Layak
Penyediaan hunian yang layak dipercaya akan menurunkan beban anggaran negara di sektor kesehatan. Dengan rumah yang bersih, sehat, dan memiliki akses air minum yang terjamin, angka kunjungan rumah sakit akibat penyakit lingkungan dapat ditekan secara drastis. Hashim berpendapat bahwa jika pemerintah berhasil menghapus kawasan kumuh dan menggantinya dengan hunian yang manusiawi, maka cita-cita menuju “Indonesia Emas 2045” dengan generasi yang cerdas dan kuat secara fisik akan lebih mudah tercapai.
Kesimpulan
Pernyataan Hashim ini merupakan pengingat penting bagi seluruh pemangku kepentingan bahwa pembenahan sektor properti dan perumahan rakyat memiliki kaitan organik dengan kualitas kesehatan publik. Tanpa adanya rumah yang layak, intervensi medis dan pemberian gizi tambahan saja tidak akan cukup untuk menuntaskan masalah stunting dan TBC di Indonesia secara permanen. Hunian yang sehat adalah fondasi pertama bagi kesehatan dan masa depan anak-anak bangsa.