Lifestyle
Jangan Tertipu Angka Timbangan! Turun Berat Badan Cepat Justru Tanda Bahaya?
Semarang(Usmnews)– Dikutip dari kompas.com Banyak orang terjebak dalam persepsi keliru bahwa keberhasilan diet semata-mata diukur dari seberapa cepat angka di timbangan turun dalam waktu singkat. Padahal, penurunan berat badan yang ekstrem—misalnya mencapai 3 hingga 4 kilogram hanya dalam satu minggu—justru bisa menjadi sinyal bahaya bagi tubuh.
Menurut Dr. dr. Inge Permadhi, MS, SpGK(K), seorang Dokter Spesialis Gizi Klinik, fenomena berat badan yang “terjun bebas” ini sering kali bukan merupakan tanda kesuksesan, melainkan indikasi kesalahan fatal dalam pola diet. Bukannya membakar lemak, tubuh justru kehilangan massa otot yang berharga. Akibatnya, seseorang mungkin terlihat lebih kurus, namun kondisinya tampak seperti mengalami malnutrisi: tidak bugar, lemas, dan tidak sehat.
Tanda Bahaya Tubuh Kekurangan GiziKetika diet dilakukan secara sembarangan demi hasil instan, tubuh akan mengirimkan sinyal protes yang jelas. Penurunan berat badan drastis sering kali diikuti dengan rasa lelah yang berlebihan (fatigue) karena hilangnya sumber energi utama.
Selain itu, tanda fisik lain yang muncul meliputi:
1.Kulit menjadi kering dan kusam.Sistem imun melemah sehingga mudah jatuh sakit.
2.Sering merasa kedinginan (akibat metabolisme melambat).
3.Gangguan siklus menstruasi pada wanita.
Gejala-gejala ini menegaskan bahwa tubuh sedang mengalami defisit gizi dan cairan yang parah, bukan sedang menjadi lebih sehat.
4 Kesalahan Diet yang Sering Tidak DisadariBerdasarkan paparan Dr. Inge, terdapat beberapa pola pikir dan kebiasaan salah yang kerap dilakukan pelaku diet tanpa sadar:
1. Terjebak pada Penurunan Berat Badan Ekstrem Memangkas kalori secara brutal memang akan menurunkan berat badan dengan cepat. Namun, ini memicu mekanisme pertahanan tubuh. Saat asupan energi sangat minim, tubuh akan masuk ke mode “cadangan” (reserve). Artinya, metabolisme tubuh justru melambat untuk mempertahankan sisa energi yang ada. Hasil akhirnya bukan tubuh yang langsing dan kencang, melainkan tubuh yang lemah dengan metabolisme yang rusak.
2. Mengabaikan Komposisi Nutrisi (Hanya Fokus Porsi) Banyak orang hanya fokus mengurangi jumlah makanan tetapi buta terhadap kualitas makanan. Tubuh manusia tetap membutuhkan makronutrien lengkap seperti karbohidrat kompleks, protein hewani/nabati, lemak sehat, serta serat dari sayur dan buah. Dr. Inge menekankan pentingnya menghitung kebutuhan spesifik: berapa butir telur, berapa gram daging, dan seberapa banyak sayur yang dibutuhkan sebelum memulai diet, bukan sekadar menahan lapar.
3. Menerapkan Diet “Satu Ukuran untuk Semua” Meniru diet orang lain adalah kesalahan besar. Setiap individu memiliki kondisi biologis yang unik. Ada yang membutuhkan asupan protein lebih tinggi, ada pula yang harus fokus pada restriksi karbohidrat. Oleh karena itu, konsultasi dengan ahli gizi sangat disarankan—terutama bagi mereka yang memiliki obesitas—agar pola makan dapat disesuaikan (personalisasi) sehingga aman dan tidak memicu penyakit.
4. Perubahan Radikal yang Memicu “Kejut” Tubuh Niat untuk menghilangkan gorengan dan lemak jenuh memang baik, namun jika dilakukan secara mendadak (total stop), tubuh akan mengalami “kaget”. Hal ini sering kali menjadi bumerang yang menyebabkan craving atau keinginan makan berlebihan di kemudian hari. Dr. Inge menyarankan perubahan secara bertahap agar tubuh bisa beradaptasi, sehingga pola hidup sehat bisa dijalankan secara konsisten dalam jangka panjang.