Anak-anak
Jangan Langsung Marah, Terapkan Strategi Jitu Saat Anak Menutupi Kesalahan
Semarang (usmnews) – Banyak orang tua bingung mencari cara hadapi anak berbohong dalam kehidupan sehari-hari. Anak sering kali tidak bermaksud memanipulasi orang tua secara sengaja. Mereka hanya ingin menghindari hukuman atau menyembunyikan rasa malu atas kesalahan tersebut. Oleh karena itu, reaksi orang tua sangat menentukan keterbukaan anak pada masa depan.
Dua orang psikolog membagikan pandangan mereka mengenai perilaku anak tersebut baru-baru ini. Mereka menyarankan para orang tua untuk merespons kebohongan tanpa menyudutkan sang buah hati. Selanjutnya, psikiater bernama Tamir Aldad memberikan sebuah contoh kalimat teguran yang sangat efektif. Orang tua cukup mengatakan bahwa mereka sudah mengetahui kejadian sebenarnya secara pasti.
Orang tua kemudian meminta anak menceritakan kejadian tersebut dari sudut pandang mereka. Pendekatan ini ampuh menghilangkan kesan bahwa anak sedang masuk ke dalam sebuah jebakan. Akibatnya, anak merasa mendapat undangan terbuka untuk berbicara jujur tanpa rasa takut. Mereka tidak lagi merasa tertekan untuk memilih antara mengaku atau terus menyangkal.
Hindari Pertanyaan Bumerang sebagai Cara Hadapi Anak Berbohong
Orang tua sering kali melontarkan pertanyaan interogasi saat mengetahui anaknya sedang berbohong. Pertanyaan bernada tuduhan justru bisa menjadi bumerang bagi komunikasi keluarga di rumah. Kemudian, psikolog klinis bernama Jenny Yip menjelaskan dampak buruk dari pertanyaan langsung tersebut. Anak dengan cepat menyadari bahwa pertanyaan itu merupakan sebuah ujian bagi mereka.
Ketika merasa sedang menjalani ujian, anak berhenti memikirkan pentingnya sebuah kejujuran. Mereka justru mulai memikirkan berbagai alasan untuk melarikan diri dari situasi tersebut. Alih-alih bertanya, Yip menyarankan orang tua untuk langsung menyampaikan fakta yang terlihat. Setelah itu, orang tua bisa meminta anak menjelaskan situasi tersebut secara tenang. Pendekatan ini membuka ruang aman bagi anak untuk menjelaskan tanpa tekanan berat.
Pahami Alasan Anak dan Sesuaikan Gaya Bicara
Anak mempunyai beberapa alasan utama saat memutuskan untuk menyembunyikan sebuah kebenaran. Ketakutan mengecewakan orang tua menjadi salah satu faktor pendorong perilaku kebohongan tersebut. Kadang kala, mereka menyembunyikan fakta demi melindungi teman sebaya dari sebuah masalah. Selain itu, rasa malu membuat anak menganggap kesalahan sebagai tanda keburukan diri. Anak yang merasa diterima akan lebih bersedia memperbaiki kesalahan mereka secara sukarela.
Sementara itu, kemampuan anak dalam memikirkan konsekuensi jangka panjang masih terus berkembang. Kebohongan kadang muncul secara spontan sebelum mereka sempat memikirkan dampak tindakan tersebut. Oleh sebab itu, orang tua wajib menyesuaikan cara bicara dengan usia sang anak. Balita membutuhkan pendekatan yang menekankan bahwa semua orang bisa melakukan suatu kesalahan. Orang tua bisa mengajak mereka membersihkan kekacauan bersama-sama sebagai bentuk tanggung jawab.
Pendekatan untuk anak usia sekolah berfokus pada latihan berkata jujur tanpa amarah. Kesimpulannya, orang tua harus memisahkan perilaku buruk dari identitas asli sang anak. Orang tua pantang melabeli anak mereka sebagai seorang pembohong sejati setiap saat. Akhirnya, orang tua bisa memberikan konsekuensi relevan sambil tetap mengapresiasi kejujuran anak. Hubungan keluarga akan tumbuh semakin kuat melalui komunikasi positif dan saling percaya.