Sports
Italia dan Trauma Playoff Piala Dunia

Trauma Playoff Piala Dunia Menghantui Italia Jelang Perebutan Tiket 2026Bagi Timnas Italia, peraih empat gelar Piala Dunia, kata playoff telah menjelma menjadi trauma kolektif sejak dua edisi terakhir turnamen terbesar sepak bola dunia. Meskipun Italia diakui sebagai kekuatan global, kegagalan beruntun dalam babak playoff telah mencoreng reputasi historis mereka.
Kegagalan Playoff Piala Dunia 2018: Setelah mencatatkan rekor 14 kali penampilan beruntun di Piala Dunia, Italia harus menerima kenyataan pahit gagal lolos ke edisi 2018. Mereka finis sebagai runner-up Grup G, di bawah Spanyol, dan harus menjalani playoff melawan Swedia. Italia kalah tipis 0-1 di leg pertama di Solna. Saat bertindak sebagai tuan rumah di Milan, Gli Azzurri tidak mampu mencetak gol balasan dan hanya bermain imbang 0-0.

gregat 0-1 mengakhiri harapan mereka tampil di Rusia, menyamai kegagalan terakhir mereka pada tahun 1958.Luka Lebih Dalam pada Piala Dunia 2022: Empat tahun berselang, luka itu semakin dalam. Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2022, padahal mereka berstatus sebagai juara bertahan Piala Eropa (Euro 2020). Kegagalan bersaing dengan Swiss di fase grup—ditandai dengan hasil imbang 1-1 di kandang dan imbang
0-0 melawan Irlandia Utara di laga akhir—memaksa mereka kembali ke jalur playoff. Di babak semifinal playoff yang berformat baru, meskipun semua mata tertuju pada potensi bentrok final melawan Portugal, Italia secara mengejutkan kalah 0-1 dari Makedonia Utara. Mimpi mereka kembali sirna sebelum mencapai final.Playoff Piala Dunia 2026: Kini, Italia kembali terpaksa melalui babak playoff setelah gagal bersaing dengan Norwegia di kualifikasi grup.
Trauma dari dua kegagalan sebelumnya menjadi beban psikologis yang berat. Di babak playoff kali ini, Italia akan bertemu Irlandia Utara di semifinal, dan jika lolos, mereka akan menghadapi pemenang antara Wales vs Bosnia di final. Dengan catatan historis kegagalan playoff yang kelam, Italia memikul tanggung jawab besar untuk memutus rantai trauma dan mengamankan tempat di Piala Dunia 2026.






