Business
Harga Emas Dunia Tembus Rekor Baru: Pasar Cermati Sinyal The Fed di Tengah Gejolak Global

Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com Pada perdagangan hari Rabu, 28 Januari 2026, pasar komoditas global kembali mencatatkan sejarah baru. Harga emas dunia dilaporkan melonjak tajam hingga menembus rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high), melampaui level psikologis US$ 5.200 per troy ounce. Kenaikan dramatis ini terjadi di tengah suasana pasar yang penuh kehati-hatian, di mana para investor global sedang menanti arah kebijakan moneter terbaru dari bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed). Faktor Utama: Pelemahan Dolar dan Spekulasi Pemicu utama dari reli harga emas kali ini adalah pelemahan signifikan pada indeks dolar AS (Greenback). Mata uang Negeri Paman Sam tersebut mengalami tekanan jual yang hebat hingga menyentuh level terendah dalam beberapa tahun terakhir. Karena emas dihargai dalam dolar AS, pelemahan mata uang tersebut membuat harga emas menjadi relatif lebih “murah” dan menarik bagi pemegang mata uang lain, sehingga memicu aksi beli masif di pasar global.
Di sisi lain, fokus utama pelaku pasar tertuju pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC). Konsensus pasar memperkirakan bahwa The Fed kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50% hingga 3,75%. Namun, yang lebih dinanti oleh investor bukanlah keputusan suku bunga itu sendiri, melainkan sinyal atau “petunjuk” (guidance) dari Ketua The Fed, Jerome Powell, mengenai prospek pemangkasan suku bunga di masa depan. Jika The Fed memberikan sinyal dovish (melunak), hal ini diprediksi akan semakin menekan dolar AS dan melambungkan harga emas lebih tinggi lagi. Geopolitik Memanas: Emas Sebagai Safe Haven. Selain faktor moneter, sentimen risk-off akibat ketegangan geopolitik juga menjadi bahan bakar utama kenaikan harga logam mulia. Situasi politik global pada awal 2026 diwarnai oleh ketidakpastian yang tinggi, termasuk ancaman perang dagang baru.

Presiden AS Donald Trump dilaporkan melontarkan ancaman tarif impor yang agresif terhadap mitra dagang utama seperti Kanada dan negara-negara Eropa, serta meningkatnya friksi diplomatik dengan Iran.Kondisi ini menciptakan ketakutan akan guncangan ekonomi global, memaksa investor institusi maupun ritel untuk mengalihkan aset mereka ke instrumen safe haven atau aset lindung nilai. Emas, yang secara tradisional dianggap sebagai pelindung kekayaan di masa krisis, menjadi pilihan utama di tengah volatilitas pasar saham dan ketidakstabilan mata uang fiat. Prospek ke DepanPara analis pasar menilai tren kenaikan ini (bullish) masih memiliki momentum yang kuat.

Beberapa institusi keuangan besar, seperti Deutsche Bank, bahkan telah merevisi target harga emas mereka, dengan proyeksi bahwa harga bisa saja menyentuh level US$ 6.000 per troy ounce dalam tahun 2026 jika kondisi makroekonomi dan geopolitik tidak membaik. Kenaikan harga emas ini juga turut mengerek harga logam mulia lainnya, seperti perak, yang juga mencatatkan penguatan signifikan sebagai aset ikutan. Secara keseluruhan, rekor harga emas pada 28 Januari 2026 ini bukan hanya sekadar angka, melainkan cerminan dari tingginya tingkat kecemasan investor terhadap stabilitas ekonomi dan politik dunia saat ini.







