International
Harapan pada “The Peacemaker”: Seruan Sisi kepada Trump

Semarang (usmnews) – Dikutip dari international.sindonews.com Di tengah ketegangan yang terus meningkat di kawasan Teluk, Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi melontarkan pernyataan yang cukup emosional sekaligus strategis. Berbicara pada pembukaan konferensi energi internasional EGYPES 2026 di Kairo, Sisi secara terbuka meminta campur tangan Presiden Trump untuk meredam api peperangan. Pesan ini bukan sekadar basa-basi diplomatik, melainkan cerminan dari kekhawatiran mendalam negara-negara kawasan terhadap masa depan stabilitas global.
1. Seruan Langsung: “Hanya Anda yang Bisa”

Inti dari pesan Sisi adalah pengakuan terhadap pengaruh unik yang dimiliki oleh Donald Trump. Sisi menyatakan, “Tidak ada seorang pun selain Anda yang dapat menghentikan perang di kawasan kami.” Pernyataan ini menunjukkan betapa besarnya ekspektasi dunia internasional terhadap peran Amerika Serikat sebagai mediator utama. Sisi juga menekankan bahwa permintaannya didasarkan atas nama kemanusiaan dan aspirasi dari orang-orang yang mencintai perdamaian di seluruh dunia.
2. Konteks Perang yang Mengkhawatirkan
Permintaan ini muncul tepat saat konflik dengan Iran memasuki bulan kedua—sebuah perang yang pecah sejak akhir Februari 2026. Situasi ini telah memicu krisis energi yang masif, terutama dengan terganggunya jalur perdagangan di Selat Hormuz. Sisi memperingatkan bahwa jika perang ini tidak segera diakhiri, dampaknya akan meluas jauh melampaui medan tempur:
• Melambungnya Harga Energi: Ada kekhawatiran nyata bahwa harga minyak dunia bisa menembus angka $200 per barel.
• Ancaman Ketahanan Pangan: Kenaikan biaya logistik dan bahan bakar akan berimbas langsung pada harga pupuk dan produk pertanian.
• Stabilitas Ekonomi: Negara-negara dengan ekonomi menengah dan rapuh akan menjadi pihak yang paling menderita akibat guncangan harga ini.
3. Keyakinan pada Rekam Jejak Trump
Mengapa Sisi begitu yakin pada Trump? Sejarah mencatat bahwa Trump sebelumnya berhasil memediasi gencatan senjata di Gaza melalui perjanjian di Sharm el-Sheikh pada akhir 2025. Keberhasilan tersebut nampaknya menjadi dasar bagi Sisi untuk kembali menaruh kepercayaan penuh pada gaya diplomasi Trump yang dianggap tegas dan mampu memberikan tekanan yang diperlukan kepada pihak-pihak yang bertikai.

4. Nasib Selat Hormuz dan Ekonomi Global
Penutupan atau gangguan di Selat Hormuz menjadi “momok” bagi ekonomi Mesir dan dunia. Sebagai negara yang sangat bergantung pada stabilitas arus perdagangan global, Mesir merasa terhimpit oleh situasi ini. Sisi menggarisbawahi bahwa perang hanya akan membawa kehancuran dan kerugian bagi semua pihak; tidak akan ada pemenang sejati dalam konflik yang destruktif ini.
Kesimpulan
Pernyataan Sisi ini menempatkan Donald Trump pada posisi sentral dalam peta geopolitik Timur Tengah tahun 2026. Seruan “tolong bantu kami” dari pemimpin sebesar Mesir menunjukkan betapa gentingnya situasi saat ini. Dunia kini menunggu apakah respons dari Gedung Putih akan mampu mewujudkan perdamaian yang diharapkan atau justru konflik ini akan semakin berkepanjangan.







