Nasional

Gunung Sampah Pasar Induk Kramat Jati: Ancaman Bau Busuk, Tembok Jebol, dan Derita Warga yang Tak Berujung

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com Krisis pengelolaan limbah kembali mencuat di salah satu pusat ekonomi terbesar Jakarta, Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Warga yang bermukim di sekitar kawasan tersebut kini harus hidup berdampingan dengan tumpukan sampah yang kondisinya kian memprihatinkan. Berdasarkan pantauan lapangan pada Rabu (7/1/2025), Tempat Penampungan Sementara (TPS) di pasar tersebut tidak lagi mampu menampung volume limbah yang masuk, menciptakan pemandangan kumuh dan situasi lingkungan yang tidak sehat.

​Berikut adalah rincian dampak dan kondisi terkini yang dikeluhkan oleh warga sekitar:

​1. Kondisi Fisik: Sampah Menggunung Hingga 6 Meter

​Situasi di lokasi TPS memperlihatkan kegagalan manajemen sampah yang serius. Tumpukan sampah dilaporkan telah mencapai ketinggian lebih dari enam meter, melampaui tinggi fisik truk-truk pengangkut yang beroperasi di sana.

​Gunungan limbah ini tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga menciptakan dampak lingkungan yang nyata di area sekitarnya:

Foto: tribunnews.com
  • Jalanan Kumuh dan Licin: Air lindi atau air rembesan yang bercampur dengan sisa-sisa pembusukan sampah mengalir bebas ke badan jalan. Hal ini menyebabkan akses jalan menjadi becek, licin, dan sangat kotor, sehingga membahayakan siapa saja yang melintas.
  • Kerusakan Infrastruktur: Volume sampah yang “overload” ini membawa dampak fisik yang merusak. Syahrul (50), salah satu warga setempat, mengungkapkan bahwa tekanan berat dari tumpukan sampah tersebut telah menyebabkan tembok pembatas antara pasar dan permukiman warga jebol. Puing-puing beton dan tiang tembok yang roboh bahkan masuk dan menyumbat saluran air, yang berpotensi memicu masalah drainase lebih lanjut. Kejadian ini diperkirakan terjadi dalam kurun waktu satu bulan terakhir akibat beban dorong sampah yang tak tertahankan.

​2. Polusi Udara dan Jangkauan Bau Busuk

​Dampak yang paling dirasakan sehari-hari oleh warga adalah polusi udara berupa bau busuk yang menyengat. Aroma tidak sedap ini tidak hanya terisolasi di area pasar, melainkan terbawa angin hingga radius yang cukup jauh.

​Roni (57), warga RW 04 Kelurahan Tengah, menuturkan bahwa bau sampah tercium kuat hingga ke dalam rumahnya, meskipun jarak tempat tinggalnya mencapai 200 meter dari lokasi TPS. Keluhan serupa dirasakan secara meluas oleh warga di beberapa Rukun Tetangga (RT), antara lain:

Foto: kompas.com
  • ​RT 03
  • ​RT 06
  • ​RT 07
  • ​RT 08
  • ​RT 09
  • ​RT 12

​Warga menduga fenomena ini terjadi akibat ketimpangan logistik, di mana volume sampah harian yang dihasilkan oleh aktivitas pasar jauh lebih besar dibandingkan kapasitas armada truk pengangkut yang tersedia.

​3. Ancaman Kesehatan dan Hama Penyakit

​Selain bau dan kerusakan fisik, tumpukan sampah ini mengundang vektor penyakit. Syahrul menambahkan bahwa lalat dalam jumlah besar kerap menyerbu permukiman warga, terutama saat musim buah tiba. Kehadiran lalat yang masuk hingga ke dalam rumah ini menimbulkan kekhawatiran mendalam terkait kebersihan makanan dan kesehatan keluarga, khususnya bagi anak-anak kecil yang rentan terhadap penyakit.

​Masalah ini dinilai warga sebagai persoalan kronis. Meskipun tumpukan sampah di Pasar Induk Kramat Jati sudah menjadi pemandangan “tahunan”, eskalasi yang terjadi dalam satu bulan terakhir di mana tumpukan menjulang tinggi hingga merobohkan tembok dianggap sebagai titik terparah yang sangat mengganggu kenyamanan dan kualitas hidup masyarakat sekitar.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version