Education

Gunakan Analisis Sederhana, Dr. Prio Adi Kupas Tuntas Pilar RAMS di Hadapan Mahasiswa USM

Published

on

Semarang (USMNEWS) – Himpunan Mahasiswa Elektro Fakultas Teknik Universitas Semarang (USM) sukses menyelenggarakan Seminar Internasional bertajuk “Reliability, Availability, Maintainability and Safety Industrial Problems with its Solution” di Gedung Auditorium USM pada Selasa, 30 Juni 2026.

Acara berskala global ini menghadirkan Dr. Ir. Prio Adi Sesotyo, ST, M.Eng., IPU sebagai salah satu pembicara utama yang mengupas tuntas sistem distribusi listrik berbasis prinsip RAMS, bersanding dengan narasumber internasional lainnya seperti Dr. Asma Putra Aziz dan Mr. Puji Basuki. Kehadiran forum ilmiah ini sengaja diinisiasi untuk menjembatani kesenjangan teoretis di bangku perkuliahan dengan dinamika riil di lapangan kerja.

“Ide awal dari seminar ini adalah kebetulan dari saya karena saya ingin membawa elektro, teknik elektro itu lebih mendekat ke dunia industri,” ungkap Dr. Prio.

Guna mempermudah audiens memahami konsep teknis yang kompleks, Dr. Prio menjabarkan empat pilar utama RAMS menggunakan analogi sederhana yang dekat dengan kehidupan mahasiswa, seperti performa sepeda motor atau gawai pintar. Menurutnya, sebuah sistem industri yang ideal harus selalu siap beroperasi tanpa kendala, mudah diperbaiki jika terjadi kerusakan, serta menjamin keselamatan lingkungan dan penggunanya tanpa melupakan penguasaan sains dasar. Konsep ketersediaan atau availability menjadi hal mendasar dalam menentukan efisiensi kerja sebuah aset operasional agar tidak memicu kerugian produksi yang masif.

“Saya punya motor. Saya pengin ketika saya pakai motornya saya mau pergi saya nyalakan bisa jalan. Motor saya selalu available ketika saya butuhkan,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti tiga tingkatan manajemen perawatan di dunia industri, mulai dari reaktif, preventif, hingga prediktif. Berdasarkan pengalamannya mengajar kelas karyawan di Semarang, ia menyayangkan bahwa sebagian besar pabrik lokal masih menerapkan pola reaktif, yaitu membiarkan komponen mesin bergetar atau memburuk sampai rusak total baru diperbaiki, padahal tren global sudah bergerak ke arah pemeliharaan prediktif berbasis kondisi (condition-based maintenance).

“Sebagian besar di sana di industri-industri sekitar Semarang itu belum menerapkan ini, belum menerapkan reliability availability secara konsisten,” tambahnya.

Melalui seminar global ini, para mahasiswa juga dibekali wawasan internasional mengenai analisis getaran mesin (Vibration Theory and Engineering Cases) oleh Dr. Asma Putra Aziz dari Curtin University Australia, serta strategi program perawatan mesin untuk menekan risiko kerugian operasional oleh Mr. Puji Basuki dari Meteorology Australia. Dr. Prio menekankan pentingnya bagi calon lulusan teknik untuk memperluas jangkauan kompetensi mereka agar tidak kalah saing dengan tenaga kerja luar. “Jangan sampai kita cuman jagoan di Semarang. Kalau bisa kita jagoan di luar kota Semarang, di Jawa Tengah, Indonesia, luar negeri,” tegasnya.

Sesi pematerian ditutup dengan perbandingan menarik mengenai penanganan gangguan kelistrikan akibat cuaca ekstrem antara sistem di Indonesia dan Jepang, di mana sistem proteksi lokal cenderung memadamkan aliran listrik demi melindungi aset, sementara negara maju sudah menggunakan mekanisme otomatis tingkat lanjut agar aktivitas publik tetap berjalan normal. Perbedaan paradigma manajemen risiko ini menjadi tantangan besar bagi dunia teknik elektro domestik dalam merancang sistem distribusi yang andal di masa depan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version