Connect with us

Nasional

Gendhing Setu Legi: Napas Kebudayaan dan Simbol Persatuan di Purworejo

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com Di tengah arus modernisasi yang kian deras, Kabupaten Purworejo memilih cara yang elegan dan sarat makna untuk merawat identitasnya. Melalui gelaran rutin bertajuk “Gendhing Setu Legi,” pemerintah dan masyarakat setempat menghidupkan kembali warisan leluhur di Pendopo Kabupaten Purworejo. Acara ini bukan sekadar panggung hiburan semata, melainkan sebuah ruang refleksi kultural yang mempertemukan masa lalu dengan semangat masa kini. Suasana syahdu kerap menyelimuti pendopo saat acara berlangsung. Di bawah temaram lampu yang hangat, alunan gamelan Jawa mengalir pelan, berpadu harmonis dengan tembang-tembang tradisional yang dilantunkan para sinden. Nuansa ini menciptakan atmosfer lesehan yang santai namun khidmat, menghapus sekat-sekat sosial dan menekankan kesetaraan di antara para hadirin yang datang dari berbagai kalangan.

Bupati Purworejo, Yuli Hastuti, menegaskan bahwa Gendhing Setu Legi memiliki misi strategis di luar aspek artistiknya. Dalam sambutannya, ia menyoroti kekhawatiran akan memudarnya budaya lokal jika tidak dirawat secara kolektif. Oleh karena itu, acara ini dirancang sebagai benteng pertahanan budaya—sebuah upaya sadar untuk memastikan bahwa nilai-nilai tradisi tetap relevan dan hidup di tengah masyarakat, bukan hanya menjadi artefak sejarah yang tersimpan di museum. Bagi para seniman daerah, Gendhing Setu Legi adalah oase. Ini adalah panggung ekspresi di mana kreativitas mereka dihargai dan diberi tempat terhormat. Melalui tarian klasik, karawitan, dan sesi wedhar kawruh (diskusi pengetahuan budaya), para seniman tidak hanya menghibur, tetapi juga mentransfer nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi muda yang hadir.

Perekat Sosial “Guyub Rukun”Dalam konteks yang lebih luas, terutama bertepatan dengan momentum peringatan Hari Jadi ke-195 Kabupaten Purworejo, tradisi ini dimaknai sebagai fondasi pembangunan karakter masyarakat. Bupati Yuli menekankan bahwa kemajuan daerah tidak melulu soal pembangunan fisik atau infrastruktur, tetapi juga tentang seberapa kuat akar budaya menopang kehidupan sosial warganya. Semangat guyub rukun (kebersamaan dan kerukunan) menjadi pesan inti dari setiap gelaran ini. Budaya difungsikan sebagai perekat yang menyatukan perbedaan, menciptakan harmoni yang esensial bagi stabilitas dan kemajuan daerah. Dengan merawat tradisi seperti Gendhing Setu Legi, Purworejo sedang mengirimkan pesan bahwa modernitas dan tradisi dapat berjalan beriringan, saling menguatkan demi masa depan yang berakar kuat pada jati diri bangsa.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *