Entertainment
Fenomena SEAblings vs KNetz: Rasisme Visual di Balik Lensa

Semarang (usmnews) – Dilansir dari Kumparan.com Netizen Asia Tenggara membuka lembaran tahun 2026 dengan membentuk aliansi solidaritas baru. Fenomena SEAblings vs KNetz mencuat ke permukaan sebagai respons keras atas gelombang sentimen negatif dari sebagian warganet Korea Selatan. Bahkan, konflik ini berawal dari protes sederhana terhadap perilaku agresif fansite master di konser DAY6 Kuala Lumpur. Selanjutnya, ejekan rasis mengenai status ekonomi dan standar fisik artis lokal justru memperkeruh suasana di ruang digital.
Otoritas Semu di Balik Kamera Mahal

Sebenarnya, akar masalah bermula dari arogansi pemilik kamera profesional (DSLR) di tengah kerumunan konser. Pasalnya, para fansite master sering memaksakan kehendak demi mendapatkan gambar terbaik. Meskipun berdalih dokumentasi, mereka justru menggunakan alat canggih tersebut sebagai simbol otoritas dan kekuasaan. Akibatnya, netizen lokal yang hanya bermodal ponsel sering menerima cemoohan soal kualitas gambar yang buram. Padahal, serangan verbal tersebut merendahkan martabat penggunanya, bukan sekadar mengkritik resolusi piksel semata.
Benturan Estetika: Polesan vs Autentisitas

Di sisi lain, industri hiburan Korea selalu menonjolkan estetika serba putih dan pencahayaan sempurna yang manipulatif. Sebaliknya, konten kreator Asia Tenggara lebih suka menampilkan realitas apa adanya dengan cahaya matahari alami. Namun, perbedaan selera ini justru memicu ejekan rasis terhadap latar belakang sawah atau pasar tradisional. Oleh sebab itu, sebagian KNetz gagal memahami nilai autentisitas karena mereka terlalu terbiasa dengan polesan digital yang artifisial.
[Baca Juga: Bring Me The Horizon Siap Guncang Bioskop Maret 2026]
Akhirnya, kemunculan tagar solidaritas ini menjadi momen penting bagi dekolonisasi digital. Tercatat, netizen Indonesia, Malaysia, dan Filipina mulai berani melawan standar kecantikan visual yang asing. Dengan demikian, audiens Asia Tenggara membuktikan bahwa mereka bukan lagi konsumen pasif yang bisa menerima intimidasi begitu saja. Maka dari itu, Korea Selatan harus belajar menghormati perbedaan budaya jika ingin mempertahankan pasar Fenomena SEAblings vs KNetz ini tetap kondusif.







