International
Fenomena “Roket dan Bulu” Mengapa Harga Bensin Tetap Melambung Saat Minyak Dunia Mulai Jinak?
Semarang (usmnews) – Meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pasca-penandatanganan nota kesepahaman (MoU) membawa angin segar bagi pasar energi global. Harga minyak mentah dunia perlahan merangkak turun, mendekati level yang tercatat sebelum konflik pecah. Namun, di tingkat konsumen, khususnya di c, harga bahan bakar justru masih betah bertengger di angka yang tinggi.
Dilema ini memicu gelombang protes dari masyarakat luas serta hujan kritik dari otoritas politik, termasuk Presiden AS Donald Trump. Fenomena ketidakseimbangan harga ini memunculkan perdebatan sengit antara pemerintah, pengamat ekonomi, dan raksasa industri minyak.
Sentimen Pasar Dunia vs. Realitas di Pom Bensin
Meskipun kesepakatan bilateral telah dicapai untuk mengamankan jalur perdagangan vital di Selat Hormuz, situasi di lapangan sebenarnya belum sepenuhnya kondusif. Insiden penembakan kapal oleh Iran yang memicu balasan militer dari AS pada akhir pekan menunjukkan bahwa stabilitas kawasan tersebut masih rapuh.
Meski demikian, pasar minyak mentah merespons positif langkah diplomasi yang ada:
Minyak Mentah WTI: Mengalami penurunan ke kisaran USD 69 per barel, mendekati angka acuan sebelum perang sebesar USD 67 per barel.
Harga Bensin Domestik AS: Berdasarkan data terbaru dari AAA, rata-rata harga bensin nasional justru tertahan di angka USD 3,90 per galon. Angka ini merepresentasikan lonjakan hampir satu dolar jika dibandingkan dengan posisi pada akhir Februari lalu.
Menurut Andy Lipow, Presiden Lipow Oil Associates, kemarahan publik yang diarahkan langsung kepada korporasi minyak besar sebenarnya kurang tepat sasaran karena mengabaikan mekanisme pasar ritel yang kompleks.
Mengapa Harga Bensin Lambat Turun?
Para pakar energi menilai bahwa pergerakan harga di tingkat hilir (ritel) memang tidak pernah linier dengan harga di tingkat hulu (minyak mentah). Ada beberapa faktor utama yang melatarbelakangi fenomena ini:
Efek Rocket and Feather: Rob Smith dari S&P Global Energy menjelaskan istilah klasik dalam industri ini: “Harga eceran cenderung naik secepat roket, tetapi turun selambat bulu.” Ketika harga minyak mentah melonjak, pengelola SPBU langsung menaikkan harga untuk menghindari kerugian. Namun saat harga minyak turun, mereka cenderung menahan harga lebih lama guna memulihkan margin keuntungan yang sempat tergerus.
Menipisnya Stok Global & Musim Liburan: Ekonom Rystad Energy, Claudio Galimberti, menambahkan bahwa lambatnya penurunan harga bensin diperparah oleh rendahnya cadangan bahan bakar global. Di sisi lain, permintaan domestik tengah melonjak tajam seiring dengan dimulainya musim perjalanan (travel season), sementara rantai pasok belum sepenuhnya pulih akibat gangguan yang berlangsung lama.
Ketegangan Politik dan Pembelaan Industri
Melihat situasi yang memberatkan konsumen ini, Presiden Donald Trump merespons keras melalui platform Truth Social. Ia menuduh perusahaan-perusahaan minyak multinasional sengaja melakukan praktik penggelembungan harga (price gouging) demi meraup keuntungan sepihak. Trump bahkan mendesak Departemen Kehakiman AS (DOJ) untuk segera turun tangan melakukan investigasi menyeluruh.
Tudingan politik tersebut langsung mendapat bantahan dari American Petroleum Institute (API). Perwakilan API, Bethany Williams, menegaskan bahwa dinamika harga bensin sangat dipengaruhi oleh kapasitas kilang pengolahan dan ketersediaan stok energi global yang belum sepenuhnya normal, bukan karena manipulasi sepihak.
Sejalan dengan hal itu, CFO Chevron Eimear Bonner menjelaskan bahwa terdapat jeda waktu (time lag) yang tidak bisa dihindari agar penurunan harga minyak mentah dapat berdampak langsung pada harga di pompa bensin.
Dampak Nyata pada Masyarakat Bawah
Tingginya harga bahan bakar ini pada akhirnya memberikan pukulan telak bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah. Mark Wolfe dari National Energy Assistance Directors Association mengungkapkan bahwa pembengkakan biaya energi hingga USD 100 per bulan memaksa banyak keluarga yang hidup dari gaji ke gaji untuk memangkas anggaran kebutuhan pokok lainnya atau terjerat utang kartu kredit yang semakin menumpuk.