Education

Fenomena “Pasrah Sekolah”: Menggugat Ketimpangan Ekosistem Pendidikan

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com Dalam diskursus pendidikan nasional, terdapat sebuah konsep fundamental yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara, yakni Tripusat Pendidikan. Konsep ini menegaskan bahwa proses pembentukan karakter dan kecerdasan seorang manusia tidak bisa hanya bertumpu pada satu kaki, melainkan harus melibatkan tiga pilar utama yang saling berkelindan: keluarga, sekolah, dan masyarakat. Namun, realita yang terjadi saat ini menunjukkan adanya pergeseran yang mengkhawatirkan, di mana beban pendidikan seolah-olah “dipasrahkan” secara mutlak kepada sekolah.

Sekolah sebagai Institusi Kompensasi

Artikel tersebut menyoroti bagaimana sekolah kini dipaksa berperan sebagai “institusi kompensasi”. Ketika fondasi pendidikan di tingkat keluarga rapuh—baik karena tingginya angka perceraian, kurangnya kehadiran emosional orang tua, atau pengabaian nilai-nilai moral di rumah—sekolah diharapkan menjadi penambal lubang tersebut. Sekolah dituntut untuk tidak hanya mengajarkan kurikulum akademik, tetapi juga memperbaiki akhlak, kedisiplinan, hingga kesehatan mental anak yang seharusnya mulai dibentuk dari meja makan dan interaksi di rumah. Akibatnya, sekolah berjalan dalam apa yang disebut sebagai “kesendirian struktural”; ia dituntut untuk sempurna namun tidak mendapatkan dukungan ekosistem yang sehat dari lingkungan rumah.

Kontradiksi Nilai di Ruang Sosial

Selain beban domestik yang dilimpahkan ke sekolah, terdapat jurang pemisah antara nilai-nilai yang diajarkan di kelas dengan realita di masyarakat. Di dalam sekolah, siswa diajarkan tentang toleransi, etika, dan kasih sayang. Namun, saat mereka keluar dari gerbang sekolah atau berselancar di media sosial, mereka justru dihadapkan pada ujaran kebencian, polarisasi, dan perilaku amoral yang tumbuh subur di ruang publik. Ketidakhadiran sinkronisasi antara sekolah dan masyarakat ini menciptakan “kebingungan moral” pada anak. Mereka melihat nilai-nilai luhur yang diajarkan guru runtuh seketika saat berhadapan dengan realita sosial yang keras dan kontradiktif.

Menuju Pemulihan Ekosistem Pendidikan

Pesan utama dari artikel ini adalah sebuah teguran bahwa pendidikan bukanlah sebuah “produk” yang bisa dibeli dengan membayar SPP, lalu orang tua bisa lepas tangan begitu saja. Pendidikan adalah proses kolaboratif. Jika keluarga dan masyarakat pasif, maka sekolah sehebat apa pun akan gagal melahirkan generasi yang utuh.

Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk menghidupkan kembali roh Tripusat Pendidikan. Orang tua harus kembali menjadi pendidik utama di rumah, dan masyarakat harus mampu menciptakan lingkungan sosial yang mendukung nilai-nilai kebajikan. Tanpa adanya keselarasan di antara ketiga ruang ini, masa depan pendidikan kita hanya akan terjebak dalam siklus “pasrah” yang tidak memberikan solusi jangka panjang bagi pembentukan manusia seutuhnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version