Tech
Fenomena Kekayaan Elon Musk: Menakar Nilai Rp 13.000 Triliun

Semarang (usmnews) – Dikutip dari tekno.kompas.com Dunia bisnis global kembali dikejutkan dengan lonjakan nilai kekayaan bersih Elon Musk yang mencapai angka yang sulit dinalar oleh logika rata-rata orang. Berdasarkan data terbaru per Januari 2026, kekayaan bos Tesla dan SpaceX ini telah menembus angka 779 miliar dollar AS, atau jika dikonversikan ke dalam mata uang lokal, nilainya setara dengan lebih dari Rp 13.172 triliun. Angka ini tidak hanya menempatkan Musk di posisi puncak sebagai orang terkaya di dunia versi Forbes, tetapi juga menciptakan standar baru dalam sejarah akumulasi kekayaan individu di era modern.
Jika kita menengok ke belakang, pertumbuhan harta Musk terjadi dengan kecepatan yang sangat eksponensial. Pada tahun 2020, kekayaannya “hanya” berada di angka 24,6 miliar dollar AS. Namun, dalam kurun waktu sekitar lima tahun, nilainya melonjak hingga mencapai angka 700 miliar dollar AS pada 2025 dan terus merangkak naik hingga saat ini. Faktor utama penggerak kekayaan ini bukanlah tumpukan uang tunai di dalam brankas, melainkan nilai kepemilikan sahamnya di raksasa otomotif listrik Tesla, perusahaan antariksa SpaceX, serta startup kecerdasan buatan miliknya, xAI. Karena sebagian besar kekayaannya berupa aset saham, jumlah tersebut tentu sangat fluktuatif mengikuti dinamika pasar modal global.

Untuk memahami seberapa besar Rp 13.000 triliun itu, kita perlu membandingkannya dengan aset nyata di dunia fisik. Dari sisi properti, total kekayaan Elon Musk secara teori mampu membeli seluruh hunian residensial yang ada di San Diego County, salah satu wilayah dengan harga rumah termahal di Amerika Serikat. Tidak berhenti di situ, uang tersebut juga cukup untuk memborong seluruh rumah di negara bagian Hawaii yang berjumlah lebih dari 570.000 unit, atau bahkan mencakup seluruh wilayah Maryland. Skala ini menunjukkan bahwa kekayaan satu orang ini sudah mampu menyaingi nilai aset properti di negara-negara bagian besar.

Dalam sektor otomotif, daya beli Musk juga sangat mencengangkan. Jika ia memutuskan untuk membeli semua mobil baru yang terjual di seluruh Amerika Serikat sepanjang tahun 2025, total nilai transaksi tersebut ternyata masih belum mampu menghabiskan seluruh kekayaannya. Secara ekonomi makro, harta Musk kini hampir menyamai Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan negara maju seperti Swiss. Dengan kata lain, nilai kekayaan bersih satu individu ini setara dengan seluruh hasil produksi barang dan jasa sebuah negara dalam satu tahun penuh.
Meskipun perbandingan-perbandingan di atas terdengar tidak masuk akal, hal ini memberikan perspektif nyata mengenai konsentrasi kekayaan di tangan para inovator teknologi. Elon Musk tidak lagi hanya dipandang sebagai seorang pengusaha, melainkan sebuah entitas ekonomi yang kekuatannya mampu memengaruhi stabilitas pasar global. Lonjakan harta yang drastis ini menjadi bukti nyata bagaimana sektor teknologi, kecerdasan buatan, dan eksplorasi ruang angkasa menjadi mesin pencetak kekayaan paling dominan di abad ke-21.







