Business
Fenomena “Bangun Tidur” Saham DADA dan Aksi Ambil Untung Pengendali

Semarang (usmnews) – Dikutip dari CNBCIndonesia Pasar saham Indonesia kembali dihebohkan dengan pergerakan volatil dari emiten properti, PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA). Setelah sekian lama terpuruk di level terendah alias “saham gocap” (Rp 50), saham ini tiba-tiba menunjukkan tanda-tanda kehidupan dengan lonjakan harga yang signifikan. Namun, ironisnya, momentum kebangkitan harga tersebut langsung dimanfaatkan oleh sang pemegang saham pengendali untuk melakukan aksi jual besar-besaran atau exit strategy.
Detail Transaksi dan Divestasi Kepemilikan

Berdasarkan data keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), PT Karya Permata Inovasi Indonesia selaku pengendali utama terpantau melepas kepemilikan sahamnya dalam jumlah yang sangat masif. Tepatnya pada tanggal 7 Januari 2026, saat harga saham DADA berhasil melesat ke level Rp 67 per lembar, pengendali tersebut menjual sebanyak 600 juta unit saham.
Aksi pelepasan ini secara otomatis mengubah struktur kepemilikan saham dalam perusahaan. Sebelum transaksi, PT Karya Permata Inovasi Indonesia memegang sekitar 2,2 miliar lembar saham atau setara dengan 29,60% dari total saham beredar. Setelah penjualan di harga Rp 67 tersebut, porsi kepemilikan mereka menyusut tajam menjadi 1,6 miliar lembar saham atau tinggal tersisa 21,53%.
Rekam Jejak Volatilitas yang Ekstrem
Artikel tersebut juga mengingatkan publik pada sejarah kelam pergerakan harga saham DADA. Saham ini dikenal sangat volatil; pada awal tahun harganya hanya berada di kisaran Rp 9 per lembar, namun sempat mencatatkan lonjakan fantastis lebih dari 2.000% hingga menyentuh level tertinggi di Rp 240 pada Oktober 2025.
Namun, pola yang terjadi saat ini tampak serupa dengan kejadian di masa lalu. Pada Oktober 2025, ketika harga mencapai puncaknya, pengendali juga melakukan aksi jual sebanyak 2,15 miliar saham. Dampaknya sangat fatal bagi investor ritel, di mana harga saham langsung terjun bebas hingga mengalami Auto Reject Bawah (ARB) berjilid-jilid, hingga akhirnya tertidur pulas di level gocap sejak 22 Oktober 2025.

Sentimen Pasar dan Kekhawatiran Investor
Kembalinya pola “pancing dan lepas” ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar. Saham DADA yang baru saja “terbangun” setelah mengendap selama berbulan-bulan di harga Rp 50, kini kembali dibayangi tekanan jual dari orang dalam sendiri. Keputusan pengendali untuk langsung menjual saham saat harga baru mulai merangkak naik memberikan sinyal negatif bagi investor publik. Hal ini sering kali diinterpretasikan sebagai kurangnya kepercayaan pengendali terhadap prospek jangka panjang perusahaan di harga yang lebih tinggi, atau sekadar strategi untuk mengamankan likuiditas di tengah momentum kenaikan sesaat.
Secara keseluruhan, peristiwa ini menjadi pengingat bagi para investor, khususnya investor ritel, untuk lebih berhati-hati dalam menghadapi saham-saham yang memiliki histori pergerakan “liar” dan aksi jual pengendali yang agresif di saat harga baru mulai pulih.







