Nasional

Bukan Salju, Ini Fakta Ilmiah Embun Upas yang Kembali Selimuti Dieng

Published

on

Semarang (usmnews) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memberikan penjelasan mengenai embun upas Dieng. Masyarakat sekitar sering menganggap lapisan es putih pada dedaunan sebagai fenomena turunnya salju. Namun, BMKG segera mengklarifikasi bahwa lapisan putih itu murni merupakan kristal embun beku. Kepala Stasiun Meteorologi Kelas Dua Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo, segera memberikan pernyataannya. Yoga menerangkan bahwa fenomena alam ini sungguh berbeda dari proses pembentukan salju biasa.

Oleh karena itu, kita perlu meluruskan miskonsepsi tentang embun upas Dieng secara saksama. Dengan demikian, para wisatawan tidak salah memahami saat melihat hamparan es putih itu. Salju turun sebagai partikel presipitasi langsung dari dalam batas lapisan area atmosfer bumi. Sebaliknya, embun beku muncul karena suhu udara sangat rendah menyentuh permukaan benda keras. Yoga menyatakan, “Masyarakat lebih sering mengenal fenomena es ini dengan sebutan embun upas.”

Menelusuri Penyebab Utama Kemunculan Kristal Embun Beku

Selain itu, kemunculan kristal es ini merupakah hal lumrah setiap musim kemarau tiba. Pergerakan Monsun benua Australia secara rutin membawa aliran udara dingin melintasi negara Indonesia. Oleh karena itu, angin kencang dari benua tetangga membuat suhu dataran tinggi merosot. Yoga menuturkan bahwa awan langit menipis secara signifikan selama periode musim kemarau berlangsung. Dia menambahkan, “Selama musim kemarau, tutupan awan cenderung sangat sedikit sehingga cuaca cerah.”

Namun, panas bumi akan cepat menguap ke angkasa luar bebas pada waktu malam. Dengan demikian, suhu lingkungan terus menurun secara drastis sepanjang malam hingga pagi hari. Sementara itu, proses pelepasan panas ini membuat embun air pada dedaunan langsung membeku. Yoga memaparkan, “Sinar matahari memanaskan permukaan bumi secara sangat maksimal pada siang hari.” Selain itu, hembusan angin malam yang kencang mempercepat proses pembekuan embun air itu.

Memahami Dampak Suhu Dingin dan Fenomena Frost Alam

Selanjutnya, daerah dataran tinggi memiliki tingkat kelembapan udara yang sangat dominan dan tinggi. Oleh karena itu, kristal es sering menutupi rumput kawasan wisata pada pagi hari. Banyak pelancong luar daerah sengaja berkunjung hanya untuk menikmati pemandangan hamparan es ini. Namun, pihak BMKG memperingatkan para pelancong agar selalu memprioritaskan keselamatan saat masa liburan. Dengan demikian, semua pengunjung wajib membawa pakaian super hangat untuk menahan udara dingin. Sementara itu, suhu lingkungan sekitar bisa anjlok menyentuh titik beku yang mengancam kesehatan. Yoga menegaskan, “Suhu udara kawasan sekitar bisa turun drastis menyentuh level nol derajat.”

Menentukan Waktu Terbaik Untuk Menyaksikan Embun Beku

Selain itu, butiran es putih mulai muncul sejak bulan Mei hingga bulan September. Namun, puncak hawa super dingin biasanya merajalela pada pertengahan bulan Agustus setiap tahun. Oleh karena itu, turis bisa menjadwalkan liburan mereka menyesuaikan datangnya puncak musim kemarau. Otoritas pemerintahan daerah juga meminta para pendaki gunung untuk mempersiapkan perlengkapan ekstra tebal. Dengan demikian, risiko mengalami serangan hipotermia saat mendaki gunung bisa berkurang secara maksimal. Sementara itu, mayoritas penduduk lokal sudah beradaptasi secara sempurna menghadapi kondisi cuaca ekstrem. Pesona keindahan pemandangan hamparan es putih selalu berhasil memukau mata setiap pengunjung setia.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version