Education
Fakta Air Mata Buaya: Mitos atau Fakta Medis yang Mengejutkan?
Semarang (usmnews) – Belakangan ini, fakta air mata buaya kembali mengundang rasa penasaran banyak orang. Istilah ini sering kita gunakan untuk menggambarkan seseorang yang berpura-pura sedih. Bahkan, frasa ini sangat populer dalam bahasa pergaulan sehari-hari. Namun, apakah reptil ganas ini benar-benar bisa menangis layaknya manusia? Mari kita bedah fenomena unik ini dari sudut pandang sains.
Melansir laporan dari MSN Berita, hewan amfibi raksasa ini memang memproduksi cairan mata. Akan tetapi, mereka menangis bukan karena merasakan emosi sedih atau menyesal. Cairan tersebut murni berfungsi untuk menjaga kelembapan kornea mata mereka. Selain itu, air mata ini bertindak sebagai pelumas alami bagi selaput pelindung tambahan di bola mata.
Misteri Menangis Saat Memangsa Buruan
Selanjutnya, mitos ini berawal dari kebiasaan unik sang predator saat menyantap mangsanya. Konon, buku The Voyage and Travel of Sir John Mandeville pada tahun 1400-an mempopulerkan mitos ini pertama kali. Buku klasik itu menyebutkan bahwa buaya selalu menangis saat menelan manusia. Ternyata, para ilmuwan modern menemukan kebenaran biologis di balik kejadian aneh tersebut.
“Air mata keluar sebagai dampak dari kebiasaan hewan ini mendesis dan terengah-engah saat makan,” jelas pakar hewan dalam ulasan tersebut.
Udara dari rongga hidung akan tertekan masuk ke bagian sinus. Akibatnya, udara ini bercampur dengan cairan di kelenjar lakrimal atau kelenjar air mata. Dorongan udara ini pada akhirnya memaksa air mata keluar secara deras.
Struktur Anatomi Rahang yang Unik
Di sisi lain, fakta air mata buaya juga berkaitan erat dengan cara mereka mengunyah. Reptil raksasa ini tidak memiliki kemampuan untuk mengunyah daging menjadi potongan kecil. Oleh karena itu, mereka harus menelan mangsa bulat-bulat secara paksa.
Proses menelan makanan besar ini membutuhkan usaha otot rahang yang sangat kuat. Alhasil, gerakan ini ikut mendorong kelenjar lakrimal yang terletak di dekat tenggorokan. Tekanan mekanis inilah yang membuat mata mereka mengeluarkan air secara spontan.
Kesimpulannya, kebenaran fakta air mata buaya adalah murni sebuah respons biologis semata. Air mata tersebut tidak memiliki kaitan sama sekali dengan perasaan duka cita. Fenomena ini membuktikan betapa menakjubkannya sistem anatomi satwa liar. Sehingga, kita tidak perlu lagi heran jika melihat sang predator “menangis” saat makan siang.
Baca Juga: 5 Hewan Paling Pelupa di Dunia: Pikunnya Bukan Main!