International

Eskalasi Konflik dan Strategi “Perang Atrisi”

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari SindoNews Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, memberikan peringatan keras mengenai situasi keamanan nasional yang kian kritis. Dalam pernyataan resminya, ia menegaskan bahwa Lebanon saat ini tengah menghadapi apa yang disebut sebagai “perang atrisi” atau perang pengikisan yang dilancarkan secara sepihak oleh Israel. Salam menjelaskan bahwa dinamika konflik telah berubah menjadi upaya sistematis untuk melemahkan Lebanon melalui serangan yang terus-menerus, yang bertujuan menguras sumber daya negara dan menghancurkan kemampuan pertahanan hingga titik nadir. Pernyataan ini disampaikan Salam dalam sebuah konferensi pers usai melakukan inspeksi langsung ke Pelabuhan Beirut. Ia menyerukan kewaspadaan penuh dan mendesak penerapan segala tindakan pencegahan yang diperlukan guna menghadapi potensi eskalasi serangan dari pihak Israel yang semakin tak terduga.

Sebagai respons diplomatik, pemerintah Lebanon berkomitmen untuk memobilisasi dukungan yang lebih luas dari negara-negara Arab dan komunitas internasional. Langkah ini diambil dengan tujuan mendesak penghentian agresi militer serta mendorong penarikan pasukan Israel dari wilayah konflik. Dampak Kemanusiaan dan Intensitas Serangan, kondisi di lapangan mencerminkan kekhawatiran sang Perdana Menteri. Ketegangan di wilayah Lebanon selatan telah memanas selama beberapa minggu terakhir, ditandai dengan intensifikasi serangan udara militer Israel yang terjadi hampir setiap hari. Pihak Israel mengklaim operasi tersebut menargetkan infrastruktur dan anggota Hizbullah. Salah satu insiden paling mematikan baru saja terjadi pada hari Minggu, di mana serangan udara Israel menghantam wilayah selatan Beirut dengan target Komandan Senior Hizbullah, Haitham Tabatabai. Serangan ini mengakibatkan lima orang tewas dan melukai 28 lainnya. Data akumulatif dari Kementerian Kesehatan Lebanon melukiskan gambaran yang suram; sejak kesepakatan gencatan senjata yang seharusnya berlaku mulai 27 November 2024, tercatat sebanyak 331 orang telah gugur dan 945 lainnya mengalami luka-luka akibat tembakan dan serangan Israel yang terus berlanjut.

Visi Pemulihan Ekonomi dan Infrastruktur, di tengah ancaman keamanan, pemerintah Lebanon tetap berupaya menjaga denyut nadi ekonomi negara. Salam menyoroti pentingnya Pelabuhan Beirut yang ia sebut sebagai simbol “kenangan dan masa depan kota.” Modernisasi dan pengembangan kembali pelabuhan ini ditetapkan sebagai pilar utama dalam strategi pemulihan ekonomi nasional. Ambisi pemerintah adalah menempatkan kembali Lebanon dan Pelabuhan Beirut sebagai titik sentral dalam peta rute transportasi di kawasan Levant.Sebagai langkah konkret, Salam mengumumkan telah tercapainya kesepakatan dengan Bank Dunia untuk menyusun studi komprehensif mengenai konektivitas transportasi. Studi ini akan mencakup integrasi antara pelabuhan laut, bandara, dan jalur darat untuk menghubungkan Lebanon dengan wilayah sekitarnya secara lebih efektif.

Tantangan Sejarah dan Bayang-Bayang Tragedi, upaya revitalisasi ini menghadapi tantangan infrastruktur yang berat. Sektor perkeretaapian Lebanon, yang dulunya vital dalam menghubungkan kota-kota pesisir dengan pedalaman serta memfasilitasi perdagangan, telah mati suri sepenuhnya sejak perang saudara melanda negara itu pada era 1970-an dan 1980-an.Selain itu, luka akibat ledakan dahsyat di Pelabuhan Beirut pada Agustus 2020 masih belum pulih. Lima tahun pasca-tragedi yang menewaskan lebih dari 220 orang dan melukai 7.000 warga tersebut, sebagian besar area pelabuhan masih berupa puing-puing yang terbengkalai. Situasi ini diperparah dengan lambatnya proses keadilan, di mana investigasi yudisial untuk mengungkap penyebab dan pihak yang bertanggung jawab atas ledakan tersebut hingga kini belum juga tuntas.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version