International
Ekspor Pisang Filipina Anjlok, Perang Iran Picu Rugi Rp3,4 T
Semarang (usmnews) – Dilansir dari Kumparan.com Pengusaha buah Filipina menghadapi ancaman kerugian finansial raksasa. Tepatnya, konflik bersenjata Iran mengancam pendapatan mereka hingga Rp3,4 triliun. Sebab, situasi memanas Timur Tengah sangat mengganggu jalur perdagangan pangan global. Pastinya, krisis ini menghantam keras industri ekspor pisang Filipina.
Mengutip laporan Philstar, perang kawasan Teluk mengguncang pasar domestik mereka. Khususnya, perusahaan pengekspor besar merasakan dampak finansial paling mengerikan tahun ini. Padahal, negara tersebut sedang gencar memperkuat posisi pasar Timur Tengah. Kini, Iran justru menjadi tujuan non-Asia paling menguntungkan bagi mereka. Tujuannya, pengusaha ingin mendiversifikasi pasar demi menghindari persaingan ketat kawasan Asia.
Secara statistik, Otoritas Statistik Filipina (PSA) merilis data sangat mengejutkan. Faktanya, Iran mencatatkan pertumbuhan pasar paling cepat sejak tahun 2020. Bahkan, rata-rata pertumbuhan tahunan menembus angka 15 persen hingga 2025. Saat ini, negara Timur Tengah itu menempati posisi pasar keempat terbesar. Totalnya, Iran menyumbang enam persen dari keseluruhan penerimaan ekspor pisang Filipina.
[Baca Juga: Kim Jong-un: Korea Utara Tak Akan Pernah Lepas Senjata Nuklir]
Tahun lalu, volume pengiriman komoditas andalan ini melonjak sangat tajam. Lebih lanjut, angka penjualan melesat 81 persen menyentuh USD 97,52 juta. Selain itu, pengiriman fisik mencapai 242.877 metrik ton ke negara tersebut. Luar biasanya, total pengiriman global mereka sukses menyentuh angka 3,04 juta ton.
Menanggapi krisis ini, Asosiasi Petani Pisang (PBGEA) langsung menyurati Presiden Ferdinand Marcos. Dalam suratnya, asosiasi memproyeksikan kerugian total menembus USD 200 juta. Terutama, jika konflik senjata kedua kubu makin memburuk ke depannya. Menurut Direktur Eksekutif Stephen Antig, prospek awal pasar Timur Tengah sungguh menjanjikan. Sayangnya, ledakan perang langsung menghancurkan seluruh rencana indah para pengusaha.
Akibatnya, beberapa perusahaan mulai menghentikan pengiriman demi meminimalkan risiko kerugian. Sebelumnya, banyak perusahaan sudah membangun pijakan kuat pada area Timur Tengah. Alasannya, pasar tradisional seperti Jepang dan Korea Selatan sudah mulai jenuh. Meskipun kalah dari India, pelanggan Iran tetap setia membeli produk mereka. Sebab, kualitas buah negara kepulauan ini jauh melebihi kompetitor lainnya. Akhirnya, badai perang Timur Tengah ini benar-benar mengancam masa depan ekspor pisang Filipina.