Education
Edukasi Mahasiswa USM, Peneliti Curtin University Tegaskan Teori Kuliah Takkan Pernah Kedaluwarsa
Semarang (USMNEWS) – Universitas Semarang (USM) kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan edukasi berkelas dunia melalui gelaran Seminar Internasional bertajuk “Reliability, Availability, Maintainability and Safety (RAMS) Industrial Problems with its Solution” yang diselenggarakan di Auditorium USM pada Selasa, 30 Juni 2026.
Sesi siang yang dinanti-nanti oleh ratusan mahasiswa lintas disiplin ilmu ini menghadirkan sosok anak bangsa yang kini berkarier sebagai lecturer and researcher di School of Civil and Mechanical Engineering Curtin University Australia, Asma Putra Aziz, ST, MSC, PhD. Pria asal Aceh yang memiliki rekam jejak mentereng sebagai konsultan industri global tersebut membawakan materi krusial bertajuk “Engineering Vibrations: From Theory to Industrial Applications”.
Di awal sesinya, ia langsung membakar semangat para mahasiswa dengan menekankan pentingnya sertifikasi profesi internasional agar keilmuan akademis dapat diakui secara nyata oleh industri-perusahaan besar.
“Waktu saya memberikan solusi kepada industri yang menyelesaikan masalah mereka, itu adalah solusi yang sangat-sangat kritikal; kalau salah saya bisa kena, kalau benar mereka untung,” paparnya.
Dalam pemaparannya yang disampaikan secara interaktif, pakar getaran (sound and vibration) lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) serta University of Southampton Inggris ini membedah tiga domain utama analisis getaran, yakni getaran struktural, getaran perpipaan (piping), dan mesin berputar (rotating machines). Asma membagikan studi kasus nyata dari industri gas alam cair (LNG) di mana pengabaian pada getaran pipa berujung pada retakan fatal yang memaksa pabrik menghentikan produksi total selama satu bulan.
Kerugian yang ditimbulkan tidak main-main, mencapai angka 2 juta dolar AS per hari akibat manajemen perawatan yang buruk (bad maintenance). Ia menjelaskan bahwa sinyal getaran bekerja layaknya sidik jari kriminal yang meninggalkan jejak spesifik pada frekuensi tertentu, sehingga dapat dideteksi secara presisi menggunakan sensor akselerometer melalui metode konversi Fast Fourier Transform (FFT).
Lebih lanjut, Asma mengupas tuntas fenomena resonansi yang menjadi musuh utama dalam dunia teknik, dengan menampilkan video bersejarah runtuhnya Jembatan Tacoma Narrows pada tahun 1940 akibat hantaman angin normal yang frekuensinya kebetulan cocok dengan frekuensi alami jembatan. Ia juga menyoroti ironi di lapangan kerja ketika solusi standar para teknisi senior yang langsung memasang klem (clamping) pada pipa bergetar justru mempercepat kerusakan alat karena malah menggeser sistem mendekati titik resonansi. Salah satu pencapaian terbesar timnya adalah menyelesaikan misteri getaran parah selama 5 tahun pada instalasi pipa oksigen raksasa di unit pemulihan sulfur (sulfur recovery unit) yang sangat beracun dan berisiko meledak dalam radius 15 kilometer.
“Ketika penjelasan standar gagal, ajukan pertanyaan yang berbeda,” jelasnya.
Sebelum menyerahkan kembali jalannya acara kepada moderator, Ayang Fitrianti, SS, M.IKom., ilmuwan yang juga menyandang predikat Apple Distinguished Educator ini menitipkan lima pesan penting bagi para calon insinyur masa depan.
Ia menegaskan bahwa teori dasar yang dipelajari mahasiswa di ruang kuliah tidak akan pernah kedaluwarsa (fundamentals don’t expire) dan berpikir lintas domain adalah kunci utama untuk memecahkan masalah baru di industri berskala masif.
Kehadiran pakar sekaliber Asma Putra Aziz di kampus USM tidak hanya membuka cakrawala baru tentang pentingnya presisi dalam dunia keteknikan, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa putra-putri terbaik Indonesia mampu berdiri tegak memimpin inovasi teknologi di panggung internasional.