Lifestyle

Duel Nutrisi Daging Merah: Mengupas Manfaat Sapi dan Domba bagi Kadar Zat Besi dan Kesehatan Jantung

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari iNews.id Daging merah telah lama menempati posisi vital dalam pola makan masyarakat global sebagai salah satu sumber protein hewani terbaik. Di antara berbagai jenis daging merah, daging sapi dan daging domba adalah dua primadona yang paling sering dikonsumsi. Meskipun secara kasatmata tekstur dan penggunaannya dalam kuliner terlihat serupa, kedua jenis daging ini menyimpan profil nutrisi yang berbeda. Perbedaan ini menjadi sangat krusial ketika dikaitkan dengan kondisi kesehatan tertentu, khususnya dalam hal pengelolaan kadar zat besi dalam darah serta pengendalian tekanan darah (hipertensi).

​Peran Krusial Zat Besi dan Keunggulan Daging Sapi

​Zat besi bukanlah sekadar mineral pelengkap; ia adalah komponen fundamental yang bertugas memproduksi hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh. Defisiensi atau kekurangan zat besi dapat memicu anemia, sebuah kondisi yang membuat penderitanya mudah lelah, sering pusing, pucat, hingga mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh yang signifikan.

​Baik daging sapi maupun domba memiliki keunggulan dibandingkan sumber nabati karena keduanya mengandung zat besi heme. Zat besi jenis ini memiliki tingkat bioavailabilitas yang tinggi, artinya jauh lebih mudah dan efisien diserap oleh sistem pencernaan manusia. Dalam takaran saji sekitar 85 gram, kedua daging ini mampu menyuplai sekitar 10 hingga 15 persen dari total kebutuhan zat besi harian seseorang.

​Namun, jika harus membandingkan efektivitasnya, daging sapi sedikit lebih unggul. Kandungan zat besi pada daging sapi tercatat lebih tinggi dibandingkan daging domba. Oleh karena itu, bagi individu yang sedang berjuang memulihkan kondisi dari anemia atau ingin meningkatkan kadar hemoglobin secara cepat, daging sapi adalah pilihan prioritas yang lebih strategis dibandingkan domba.

​Strategi Penyerapan dan Sinergi Makanan

​Meskipun daging merah sudah kaya akan zat besi, penyerapan nutrisi ini dapat dimaksimalkan melalui strategi kombinasi makanan (food pairing). Para ahli menyarankan untuk mengonsumsi daging merah bersamaan dengan sumber Vitamin C. Vitamin C bertindak sebagai katalisator yang mengubah zat besi menjadi bentuk yang lebih mudah diserap oleh usus.

​Sebagai contoh, menyajikan steik daging sapi atau olahan domba dengan pendamping seperti salad tomat, tumis paprika, brokoli, atau menutup makan besar dengan buah jeruk, akan meningkatkan efisiensi penyerapan zat besi secara signifikan dibandingkan hanya memakan daging saja.

​Paradoks Tekanan Darah: Antara Kalium dan Garam

​Aspek kesehatan lain yang tak kalah penting adalah pengaruh daging merah terhadap tekanan darah. Sering kali, konsumsi daging merah dikaitkan dengan risiko hipertensi. Hal ini memang beralasan jika daging dikonsumsi berlebihan atau diolah dengan lemak jenuh dan natrium (garam) yang tinggi.

​Namun, di balik risiko tersebut, daging sapi dan domba sebenarnya mengandung mineral yang bersahabat bagi pembuluh darah, yaitu kalium. Kalium bekerja berlawanan dengan natrium; ia membantu merelaksasi dinding pembuluh darah dan memfasilitasi ginjal untuk membuang kelebihan natrium melalui urine. Kabar baiknya, kandungan kalium pada daging sapi dan domba relatif seimbang. Artinya, kedua jenis daging ini masih bisa menjadi bagian dari diet ramah jantung, asalkan porsinya dikontrol dengan ketat.

​Kesimpulan: Kunci Ada pada Moderasi dan Variasi

​Kesimpulannya, tidak ada pemenang mutlak yang harus dikonsumsi setiap saat. Jika tujuan utama Anda adalah mendongkrak kadar zat besi, daging sapi adalah opsi yang lebih efektif. Namun, untuk menjaga kesehatan jantung dan tekanan darah, baik sapi maupun domba sama-sama aman, selama Anda memegang prinsip moderasi.

​Kunci kesehatan jangka panjang bukan hanya memilih jenis daging, melainkan bagaimana Anda mengolahnya dengan membatasi penggunaan garam dan lemak serta menyeimbangkannya dengan asupan serat dari sayur dan buah. Selain itu, mendiversifikasi sumber protein dengan ikan, kacang-kacangan, dan protein nabati lainnya sangat disarankan untuk melengkapi spektrum nutrisi tubuh secara menyeluruh.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version