Tech
Di Ambang Krisis? Pakar Sebut OpenAI “Bakar Uang” dan Terancam Runtuh dalam Waktu Dekat

Semarang (usmnews) – Dikutip dari detik.com Di tengah ambisi ekspansi teknologi yang masif, raksasa kecerdasan buatan (AI) OpenAI kini justru berada di bawah sorotan tajam terkait kesehatan finansialnya. Narasi kesuksesan yang selama ini dibangun mulai dibayangi oleh prediksi suram dari sejumlah analis keuangan veteran, yang menilai bahwa struktur bisnis pembuat ChatGPT ini sedang menuju titik kritis yang membahayakan.
Diagnosis Kehancuran “Real-Time”
George Noble, mantan manajer aset senior di Fidelity dengan pengalaman puluhan tahun mengamati pasar, mengeluarkan peringatan keras melalui platform media sosial X. Menurut Noble, OpenAI tidak hanya sekadar mengalami kesulitan, melainkan sedang menunjukkan tanda-tanda keruntuhan perusahaan secara real-time.
Dengan pengalaman panjang menyaksikan siklus hidup berbagai korporasi, Noble mengidentifikasi pola “lampu merah” yang kini muncul di OpenAI. Ia merujuk pada laporan keuangan yang mengejutkan, di mana perusahaan tersebut dikabarkan menanggung kerugian hingga USD 12 miliar per kuartal. Tingkat “pembakaran uang” (burn rate) ini diperparah oleh biaya operasional produk-produk baru, seperti generator video Sora, yang disinyalir menghabiskan dana hingga USD 15 juta setiap harinya hanya untuk beroperasi.

Dinding Penghalang Skabilitas dan Energi
Salah satu argumen paling krusial yang diangkat Noble adalah mengenai “hukum hasil yang makin berkurang” (law of diminishing returns) dalam pengembangan AI. Ia menepis optimisme industri yang menjanjikan peningkatan kemampuan AI secara eksponensial dengan biaya yang masuk akal.
Menurut Noble, keuntungan efisiensi tahap awal sudah habis. Kini, industri menghadapi realitas brutal: untuk membuat model AI yang hanya dua kali lebih baik dari sebelumnya, diperlukan investasi energi dan uang hingga lima kali lipat. Kebutuhan akan daya komputasi yang lebih masif, pembangunan pusat data baru, dan konsumsi energi yang meroket menjadikan model bisnis ini sangat boros modal dan sulit mencapai profitabilitas.
Stagnasi Pertumbuhan dan Keputusasaan Monetisasi
Sinyal bahaya lainnya terlihat dari sisi pendapatan. Pertumbuhan jumlah pelanggan berbayar untuk layanan ChatGPT dilaporkan mulai melambat. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar mungkin sudah mendekati titik jenuh atau konsumen mulai beralih ke alternatif lain.
Respons OpenAI terhadap perlambatan ini yakni rencana untuk menyisipkan iklan ke dalam aplikasi chatbot dinilai oleh Noble sebagai langkah defensif yang menunjukkan tekanan finansial. Langkah ini dianggap sebagai upaya putus asa untuk menambal kebocoran arus kas yang terus terjadi.

Vonis Investor dan Prediksi Kebangkrutan 18 Bulan
Berdasarkan analisis risiko tersebut, Noble menyimpulkan bahwa siklus hype atau demam AI telah mencapai puncaknya. Ia melabeli OpenAI sebagai “mesin pembakar uang” dan memberikan peringatan tegas kepada para investor untuk menjauh karena profil risikonya yang terlampau tinggi dan merugikan.
Pandangan pesimistis ini turut diamini oleh Sebastian Mallaby, peneliti senior di Council on Foreign Relations. Dalam esainya yang dipublikasikan di New York Times, Mallaby memberikan estimasi waktu yang lebih spesifik dan mengerikan: OpenAI berpotensi kehabisan uang tunai dalam kurun waktu 18 bulan ke depan.
Mallaby menegaskan bahwa jika skenario terburuk ini terjadi, kegagalan OpenAI tidak serta-merta menandakan kematian teknologi kecerdasan buatan. Sebaliknya, hal itu “hanya” akan menjadi akhir dari satu pengembang yang paling banyak mendapatkan eksposur hype, sekaligus menjadi pelajaran mahal tentang pentingnya model bisnis yang berkelanjutan di sektor teknologi tinggi.







