Business
Dari Bangkalan ke Singapura: Misi Besar MPStore Bawa Teknologi Stablecoin dan Remitensi ke Warung Kelontong

Bangkalan (usmnews) – Dikutip dari Sindonews.com Laju evolusi teknologi keuangan (fintech) global yang kian pesat memicu para pelaku industri di Indonesia untuk bergerak agresif agar tidak tergerus zaman. Semangat inilah yang membawa Abdul Aziz, atau yang akrab disapa A’ad, Presiden Direktur PT Mitra Pedagang Indonesia Tbk (MPStore), terbang langsung dari Bangkalan, Madura, menuju salah satu ajang fintech terbesar di dunia, Singapore Fintech Festival (SFF) 2025.
Diselenggarakan pada pertengahan November di Singapore Expo, acara ini menjadi kawah candradimuka bagi ribuan inovator global. Bagi A’ad, kehadirannya bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah misi strategis untuk memburu ide-ide segar yang mampu “mendefinisikan ulang” ekosistem pembayaran bagi 800.000 kliennya, yang mayoritas adalah pengusaha warung kelontong dan diaspora Madura.
Membidik Teknologi Stablecoin dan RemitensiDalam eksplorasinya, perhatian A’ad tertuju pada inovasi yang dipamerkan oleh raksasa pembayaran global, Visa, khususnya terkait teknologi stablecoin. Ia melihat potensi besar dalam layanan konversi stablecoin ke dompet digital yang memungkinkan aset tersebut digunakan untuk transaksi riil di gerai fisik.
MPStore, yang tahun sebelumnya sukses mengadopsi teknologi link payment dan soundbox payment dari ajang yang sama, kini menargetkan dua fokus utama: remitensi dan stablecoin. A’ad memiliki visi futuristik untuk mempermudah kehidupan diaspora Indonesia. Ia ingin memangkas biaya pengiriman uang antarnegara yang selama ini dikenal mahal dan berbelit.

Mimpinya sangat spesifik dan membumi: menciptakan ekosistem di mana uang kiriman dari luar negeri bisa dicairkan langsung melalui aplikasi MPStore di warung-warung kelontong Madura yang tersebar di pelosok. “Ke depan, saya ingin remitensi bisa diambil pakai MPStore di warung-warung kelontong Madura,” tegasnya.
Tak berhenti di situ, A’ad juga membayangkan skenario di masa depan di mana turis asing, misalnya di Bali, dapat berbelanja di warung kelontong sederhana menggunakan stablecoin mereka. Aset digital tersebut akan dikonversi secara otomatis menjadi saldo dompet digital melalui sistem MPStore, sehingga transaksi berjalan lancar tanpa hambatan mata uang.
Persiapan Menghadapi Regulasi Masa DepanMeskipun saat ini regulasi di Indonesia belum mengakui aset kripto sebagai alat pembayaran sah, A’ad menegaskan bahwa langkah ini adalah bentuk persiapan (“curi start”). Ia ingin infrastruktur perusahaannya siap beradaptasi seketika jika keran regulasi dibuka. SFF 2025 juga dimanfaatkannya untuk mempelajari peta regulasi finansial global sebagai bekal strategi di tanah air.
Sinergi Pemain Besar: BRI dan AIAntusiasme serupa juga ditunjukkan oleh perwakilan perbankan pelat merah, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI). Renny Amnatha dari BRI hadir untuk menggali potensi Artificial Intelligence (AI) dalam mendukung agentik e-dagang dan remitensi. Bagi BRI, ajang yang dihadiri oleh raksasa seperti JP Morgan, DBS, dan Binance ini adalah kesempatan emas untuk “belanja ide”, membangun jejaring, dan menemukan vendor teknologi yang tepat untuk diimplementasikan di Indonesia.
Kehadiran para pemain lokal di tengah 900 pembicara dan ribuan peserta global ini menegaskan bahwa Indonesia tidak ingin hanya menjadi pasar, tetapi juga adaptor aktif teknologi.
Hal ini selaras dengan filosofi bahwa meski manusia yang menciptakan teknologi, pada akhirnya teknologilah yang akan membentuk cara manusia—dan warung-warung kelontong—berinteraksi di masa depan.







