Lifestyle
Dampak Tersembunyi Melewatkan Sarapan terhadap Lonjakan Kolesterol Tubuh

Semarang (usmnews) – Dikutip dari CNBCIndonesia.com Banyak individu sering kali merasa bingung ketika kadar kolesterol mereka tetap tinggi meskipun sudah mengonsumsi obat-obatan secara teratur. Ternyata, kunci dari masalah ini sering kali bukan terletak pada pengobatan semata, melainkan pada kebiasaan yang dilakukan saat pertama kali terbangun di pagi hari. Salah satu temuan yang cukup mengejutkan adalah bagaimana kebiasaan melewatkan sarapan memiliki korelasi kuat terhadap peningkatan kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat), bahkan pada mereka yang sedang berusaha menurunkan berat badan.
Berdasarkan tinjauan dari para ahli kesehatan, setidaknya ada tiga alasan utama mengapa rutinitas pagi yang buruk dapat memperburuk profil lipid seseorang:

1. Gangguan pada Ritme Sirkadian dan Metabolisme
Setiap manusia memiliki jam biologis internal yang dikenal sebagai ritme sirkadian. Ritme ini tidak hanya mengatur siklus tidur, tetapi juga berperan vital dalam metabolisme lipid atau lemak. Ketika seseorang melewatkan waktu makan pagi, jam internal tubuh ini terganggu, yang kemudian berdampak pada gen dan enzim pengatur kolesterol.
Ahli gizi Michelle Routhenstein menjelaskan bahwa tanpa asupan nutrisi di pagi hari, enzim HMG-CoA reduktase di hati—yang bertanggung jawab mengontrol produksi kolesterol—cenderung menjadi lebih aktif. Akibatnya, tubuh justru memproduksi lebih banyak kolesterol total dan LDL. Sarapan berfungsi sebagai penyeimbang alami untuk menekan lonjakan sintesis kolesterol yang secara biologis mencapai puncaknya di pagi hari.
2. Efek Domino terhadap Nafsu Makan dan Hormon
Melewatkan sarapan sering kali memicu perubahan hormonal yang meningkatkan rasa lapar di kemudian hari. Dr. Randy Gould, seorang ahli jantung, mencatat bahwa tubuh yang tidak mendapatkan nutrisi di awal hari akan mencari kompensasi melalui asupan makanan berlebih pada siang atau malam hari.
Hal ini sering kali berujung pada kebiasaan mengemil makanan yang tidak sehat, seperti makanan tinggi karbohidrat olahan dan lemak jenuh. Meskipun beberapa orang mungkin merasa total kalori mereka berkurang dengan tidak sarapan, penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa kualitas metabolisme kolesterol tetap memburuk terlepas dari jumlah kalori yang dikonsumsi.
3. Penurunan Kualitas Diet Secara Keseluruhan
Kebiasaan menunda makan pagi cenderung merusak pola makan sehat dalam jangka panjang. Mereka yang tidak sarapan sering kali kehilangan kesempatan untuk mengonsumsi nutrisi penting seperti serat, mineral, dan biji-bijian utuh yang biasanya tersedia dalam menu sarapan sehat (seperti oatmeal atau sereal gandum).
Kurangnya asupan serat di pagi hari membuat tubuh lebih sulit mengikat kolesterol untuk dibuang. Sebaliknya, anak-anak atau orang dewasa yang melewatkan sarapan cenderung beralih ke makanan yang lebih tinggi natrium dan lemak jenuh di waktu makan berikutnya, yang secara langsung berkontribusi pada risiko kesehatan jantung yang lebih besar.

Kesimpulan dan Rekomendasi:
Untuk menjaga kesehatan jantung, sangat penting untuk melihat sarapan bukan sekadar sebagai pemenuh energi, tetapi sebagai alat pengatur metabolisme kolesterol. Memilih menu sarapan yang kaya akan serat larut dan rendah lemak jenuh adalah langkah preventif yang jauh lebih efektif daripada sekadar mengandalkan intervensi medis di kemudian hari.







