Nasional

Dampak Ganda Libur Sekolah dan Tradisi Bulan Sura: Anjloknya Harga Pangan di Pasar Wage Purwokerto

Published

on

Semarang (usmnews) – Aktivitas perekonomian dan transaksi jual beli di Pasar Wage Purwokerto saat ini tengah mengalami kelesuan yang cukup tajam. Berdasarkan pantauan lapangan pada hari Rabu, 1 Juli 2026, fenomena sepinya pasar ini berimbas langsung pada merosotnya harga berbagai macam kebutuhan pokok secara masif. Penurunan harga ini dipicu oleh bertemunya beberapa faktor utama yang menekan angka permintaan pasar di saat ketersediaan pasokan barang dari petani dan peternak sedang sangat melimpah.

Dua Faktor Utama Penyebab Lesunya Permintaan

Turunnya harga pangan secara drastis di Pasar Wage Purwokerto tidak terlepas dari dua momentum besar yang terjadi secara bersamaan, yaitu:

  • Penghentian Sementara Program MBG: Masuknya masa libur panjang anak sekolah secara otomatis menghentikan sementara jalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Padahal, program ini biasanya menyerap komoditas pangan dalam jumlah yang sangat besar setiap harinya.
  • Minimnya Hajatan di Bulan Sura: Bulan Sura dalam penanggalan Jawa sering kali dianggap sebagai bulan di mana masyarakat menghindari penyelenggaraan acara besar atau hajatan (seperti pernikahan dan khitanan). Absennya pesta-pesta rakyat ini membuat pesanan bahan pangan dalam partai besar ikut menghilang.

Rincian Merosotnya Harga Komoditas Pangan

Akibat permintaan yang terjun bebas di tengah melimpahnya stok barang, mayoritas pedagang terpaksa banting harga. Berikut adalah potret pergerakan harga di Pasar Wage:

1. Sektor Sayur-Mayur yang Paling Terpukul

Kondisi paling memprihatinkan dialami oleh para pedagang sayur. Asih, salah seorang pedagang, mengungkapkan bahwa harga sayuran anjlok sangat ekstrem, bahkan mencapai 50 persen. Karena sayuran adalah komoditas yang mudah busuk, melimpahnya stok yang tidak diimbangi dengan jumlah pembeli memunculkan masalah baru. Banyak pedagang yang sudah terlanjur berbelanja modal (kulakan) dalam jumlah besar harus menelan kerugian. Tidak jarang, sayuran yang gagal terjual terpaksa dibuang atau dialihfungsikan menjadi pakan ternak.

2. Daging Ayam dan Telur Turun Harga

Sektor protein hewani juga tidak luput dari imbas kelesuan pasar:

  • Ayam Potong: Lestari, seorang pedagang daging ayam, menyebutkan bahwa harga ayam potong saat ini merosot ke angka Rp32.000 per kilogram. Padahal, pada pekan-pekan sebelumnya, harganya masih bertengger di kisaran Rp36.000 per kilogram.
  • Telur Ayam: Menurut Tiah, pedagang telur setempat, harga eceran telur ayam kini menyentuh Rp22.000 per kilogram, sementara harga di tingkat grosir atau partai besar jauh lebih murah, yakni di kisaran Rp20.000 per kilogram.

3. Dinamika Harga Cabai dan Buah-buahan

  • Cabai Rawit Merah: Berbeda dengan komoditas lain yang turun murni karena sepinya pembeli, turunnya harga cabai juga didukung oleh faktor cuaca. Agus, pedagang cabai, menjelaskan bahwa cuaca yang bersahabat membuat hasil panen cabai petani sangat melimpah. Kini, cabai rawit merah dibanderol sekitar Rp35.000 hingga Rp36.000 per kilogram, turun lumayan jauh dari harga sebelumnya yang mencapai Rp40.000 per kilogram.
  • Buah Lokal vs Buah Impor: Pedagang buah bernama Fiki mencatat adanya penurunan harga pada buah lokal sekitar 20 hingga 30 persen. Semangka yang awalnya Rp15.000 kini menjadi Rp12.000 per kilogram, diikuti oleh penurunan harga melon dan buah naga. Namun, harga jeruk dan mangga terpantau stabil. Ironisnya, di tengah turunnya harga buah lokal, buah impor justru mengalami lonjakan harga. Hal ini murni disebabkan oleh fluktuasi nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat.

Angin Segar Bagi Para Konsumen

Di balik keluhan para pedagang yang kesulitan menghabiskan barang dagangannya, situasi anjloknya harga pasar ini justru menjadi angin segar sekaligus berkah tersendiri bagi para konsumen, khususnya ibu rumah tangga.
Puji, salah satu pembeli di Pasar Wage, mengaku sangat diuntungkan dengan kondisi saat ini. Ia merasa daya beli masyarakat seolah meningkat tajam karena dengan anggaran belanja yang sama—misalnya Rp50.000—kini ia bisa membawa pulang sayuran dan bahan pokok yang jauh lebih banyak dan bervariasi. Ia pun berharap harga bahan pangan bisa terus terjangkau sehingga sisa uang belanja dapat ditabung atau dialokasikan untuk membiayai kebutuhan sekolah anak-anak setelah masa liburan usai. Fenomena ini menunjukkan bagaimana dinamika pasar selalu menghadirkan dua sisi mata uang yang berbeda bagi penjual dan pembeli.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version