Lifestyle
“Chronically Offline” adalah Simbol Keren Masa Kini
Semarang (usmnews) – Dikutip dari Kompas.com Tren Baru: Chronically Offline” adalah Simbol Keren Masa Kini
Di tengah hiruk-pikuk era digital di mana hampir setiap detik kehidupan manusia terpaut pada layar gawai, muncul sebuah fenomena kontra-kultur yang menarik perhatian. Artikel yang dilansir dari Kompas Lifestyle menyoroti sebuah pergeseran gaya hidup baru yang disebut sebagai “Being Chronically Offline is the New Cool”. Ungkapan ini bukan sekadar slogan, melainkan sebuah manifestasi dari kelelahan kolektif masyarakat modern terhadap ritme kehidupan maya yang serba cepat, bising, dan menuntut atensi tanpa henti.
Anatomi Kelelahan Digital
Selama satu dekade terakhir, istilah “chronically online” sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang persepsinya tentang dunia nyata telah terdistorsi oleh wacana internet yang hiperaktif. Mereka terjebak dalam siklus doomscrolling, FOMO (Fear of Missing Out), dan validasi semu berupa likes dan komentar. Namun, artikel ini menegaskan bahwa pendulum kini telah berbalik. Semakin banyak orang, terutama dari generasi muda, yang mulai menyadari bahwa keterhubungan tanpa henti (hiperkonektivitas) justru menjadi sumber utama kecemasan, fragmentasi fokus, dan penurunan kualitas hidup.
Mengapa Menjadi “Offline” Itu Keren?
Menjadi “chronically offline” kini dianggap “keren” karena hal itu menyiratkan sebuah kemewahan dan kendali diri. Di saat orang lain berlomba-lomba memamerkan hidup mereka di Instagram atau TikTok, mereka yang memilih untuk offline justru menunjukkan bahwa mereka memiliki kehidupan nyata yang cukup kaya dan memuaskan sehingga tidak perlu divalidasi oleh orang asing di internet.
Menjadi tidak mudah dihubungi (unreachable) kini menjadi simbol status baru. Ini menunjukkan bahwa seseorang memiliki otonomi atas waktunya sendiri, bukan budak dari notifikasi. Gaya hidup ini menekankan pada kualitas kehadiran (presence)—menikmati kopi tanpa memotretnya, mengobrol dengan teman tanpa melirik ponsel, dan merasakan momen saat ini dengan seutuhnya.
Manfaat Psikologis dan Kualitas Hidup
Para ahli dan survei kesehatan mental yang dikutip dalam konteks tren ini menunjukkan pola yang linear: semakin tinggi intensitas penggunaan media sosial, semakin tinggi tingkat distraksi dan gangguan mental yang dialami. Dengan memeluk gaya hidup offline, seseorang melakukan “detoksifikasi” terhadap dopamin murah yang ditawarkan algoritma. Hasilnya adalah kembalinya rentang perhatian (attention span) yang lebih panjang, tidur yang lebih berkualitas, dan hubungan interpersonal yang lebih bermakna secara emosional.
Kesimpulan: Menemukan Keseimbangan
Tren ini tidak serta-merta mengajak kita untuk membuang teknologi sepenuhnya dan hidup di gua. Pesan utamanya adalah tentang intensi. Menjadi “chronically offline” berarti menggunakan teknologi sebagai alat untuk membantu kehidupan, bukan membiarkan teknologi mendikte kehidupan itu sendiri. Ini adalah ajakan untuk kembali “menyentuh rumput” (touch grass), menatap mata lawan bicara, dan menyadari bahwa kehidupan yang paling indah terjadi di depan mata kita, bukan di balik layar kaca.