Education
Cara Melindungi Data Pribadi dari Hacker AI

Semarang(usmnews) – Memasuki tahun 2026, ancaman siber telah berevolusi menjadi jauh lebih kompleks daripada sebelumnya. Oleh karena itu, serangan phishing saat ini tidak lagi terlihat kasar, melainkan sangat rapi berkat bantuan kecerdasan buatan. Memahami cara melindungi data pribadi menjadi keterampilan wajib bagi setiap pengguna internet agar tidak menjadi korban kejahatan digital yang merugikan.
Waspadai Deepfake dan Voice Cloning

Teknologi AI kini mampu meniru wajah dan suara orang terdekat Anda secara identik. Namun demikian, banyak orang yang masih meremehkan ancaman ini. Penipu sering menggunakan voice cloning untuk meminta bantuan dana mendesak. Oleh sebab itu, selalu lakukan verifikasi melalui jalur komunikasi lain jika menerima permintaan mencurigakan, meskipun suara tersebut terdengar sangat meyakinkan.
Gunakan Autentikasi Biometrik yang Kuat untuk Data
Kata kunci konvensional saat ini tidak lagi memadai karena peretas AI dapat membobol kombinasi karakter dalam hitungan detik. Selain itu, kebocoran data massal membuat password lama menjadi tidak aman. Sebagai solusinya, gunakanlah Multi-Factor Authentication (MFA) yang berbasis biometrik. Teknologi ini jauh lebih sulit ditembus dibandingkan kode OTP yang dikirim melalui jalur SMS biasa.
Baca juga : Jelajahi masalah privasi di era AI
Rutin Membersihkan Jejak Digital

Semakin banyak informasi yang Anda bagikan di media sosial, maka semakin mudah bagi sistem peretas untuk menyusun profil target secara otomatis. Oleh karena itu, lakukanlah audit privasi secara berkala pada semua akun digital Anda. Hapuslah akun lama yang sudah tidak terpakai dan batasi penyebaran informasi sensitif seperti lokasi real-time atau data pribadi lainnya di platform publik.
Enkripsi End-to-End adalah Wajib
Pastikan setiap aplikasi percakapan yang Anda gunakan sudah mendukung fitur enkripsi end-to-end. Fitur ini menjamin bahwa hanya pengirim dan penerima yang bisa mengakses isi pesan tersebut. Dengan demikian, pihak ketiga, termasuk penyedia layanan atau peretas, tidak akan mampu menyadap data Anda meskipun mereka berhasil mencegat jalur komunikasinya.
Kesimpulan
Keamanan digital di era AI bukan hanya soal kecanggihan teknologi, tetapi juga soal kewaspadaan individu. Jadi, dengan menerapkan langkah-langkah proteksi di atas secara konsisten, Anda dapat meminimalkan risiko pencurian identitas. Selalu ingat bahwa dalam dunia siber, satu kelalaian kecil bisa berdampak sangat besar bagi masa depan privasi Anda.
Baca juga : Teater Kejahatan Digital: Terbongkarnya Markas Penipuan dengan Kantor Polisi Palsu di Kamboja







