Connect with us

Lifestyle

Bye-Bye Mainstream! Ini Dia 5 Warna Cat yang Harus Anda Hindari untuk Desain Interior 2026.

Published

on

Semarang (usmnews) – dikutip dari detik.com Di dunia desain interior, tren merupakan sebuah siklus yang dinamis. Apa yang dianggap segar dan modern hari ini, bisa jadi akan terasa usang atau terlalu umum beberapa tahun kemudian. Hal ini sangat berlaku dalam pemilihan warna cat dinding, yang memegang peran krusial dalam menentukan suasana dan estetika sebuah hunian.

Seiring kita mendekati tahun 2026, para pakar dan desainer interior mulai mengamati adanya pergeseran selera global. Preferensi bergeser dari warna-warna yang mencolok atau yang telah mendominasi selama bertahun-tahun, menuju palet yang dianggap lebih menenangkan, alami, dan personal.

Berdasarkan wawasan dari sejumlah profesional desain yang dilansir oleh situs The Spruce, ada lima kategori warna yang popularitasnya diprediksi akan meredup. Warna-warna ini, yang mungkin sempat menjadi primadona, kini dianggap terlalu mainstream atau tidak lagi sejalan dengan semangat zaman yang baru.

  1. Saturasi Hangat Terakota Mulai Meredup
    Warna terakota, dengan nuansa tanah liatnya yang hangat dan kaya, telah menjadi favorit besar dalam beberapa tahun terakhir, sering digunakan untuk menciptakan suasana bohemian atau rustic yang kental.

Namun, desainer interior Lauren Lerner menilai bahwa warna ini sudah mencapai titik jenuhnya. “Warna ini sangat indah pada rumah yang tepat, tapi sudah ada di mana-mana,” ujarnya. Menurut Lerner, sudah waktunya bagi terakota untuk ‘pensiun’ dari daftar teratas pilihan interior karena dianggap terlalu hangat dan intens. Tren 2026 diprediksi akan beralih ke palet yang terasa lebih lembut dan seimbang. Konsumen akan tetap mencari nuansa membumi (earthy), namun tanpa kesan ‘berat’ yang sering dibawa oleh terakota pekat.

  1. Pesona Cokelat Tua yang Tergantikan
    Mirip dengan terakota, warna cokelat tua yang pekat juga diperkirakan akan kehilangan daya tariknya. Meskipun palet cokelat dapat memberikan kesan mewah, dewasa, dan klasik, desainer interior Claudia Allegra mencatat adanya perubahan preferensi yang signifikan.

“Meskipun palet tersebut terlihat mewah, tapi saya pikir orang-orang memilih sesuatu yang berkesan lembut dan tidak lekang oleh waktu,” kata Allegra. Banyak orang kini menjauh dari warna yang terlalu gelap dan berat, beralih ke kelir yang lebih ringan yang mampu memberikan ketenangan visual jangka panjang.

  1. Era Dingin Abu-abu Murni Berakhir
    Abu-abu murni (pure gray) telah mendominasi dunia interior selama lebih dari satu dekade sebagai warna netral yang ‘aman’ dan modern. Namun, Lerner menunjukkan bahwa era keemasannya akan segera berakhir.

Masalah utama dari abu-abu, terutama dalam tone dingin, adalah kecenderungannya untuk menciptakan interior yang terasa “kaku” dan “dingin”. “Kebanyakan dari mereka akhirnya merasa dingin dan tidak bersemangat,” jelas Lerner. Sebagai gantinya, ia merekomendasikan alternatif yang lebih hangat seperti greige (campuran abu-abu dan krem) atau taupe. Warna-warna ini tetap berfungsi sebagai palet netral, namun menawarkan “kedalaman” dan “kelas” yang lebih tanpa mendinginkan suasana.

  1. Hijau Mint: Nuansa ‘Jadul’ yang Dihindari
    Meskipun warna hijau secara umum diprediksi masih akan populer, tidak semua variannya akan bertahan. Desainer interior Steven Graffam secara spesifik menunjuk hijau mint sebagai warna yang akan ditinggalkan.

Graffam mengakui bahwa hijau mint memiliki penampilan yang “lucu”, namun ia merasa warna ini membawa nuansa artifisial yang mengingatkan pada masa lalu. “Nyatanya malah terasa seperti wallpaper jadul dari tahun 80-an,” jelasnya. Alih-alih mint, Graffam menyarankan untuk memilih palet hijau yang lebih alami, hangat, dan membumi, yang mampu memberikan kenyamanan dan kehangatan pada ruangan.

  1. Mundurnya Warna-Warna Gelap (Biru Tua dan Hitam)
    Secara umum, tren penggunaan warna-warna sangat gelap—seperti biru tua (navy) pekat atau hitam—sebagai warna dominan di ruangan diprediksi akan surut. Claudia Allegra menjelaskan bahwa nuansa gelap ini sudah tidak selaras dengan tren besar yang mengutamakan rona lembut dan hangat.

“Seringkali [warna gelap] menghasilkan ruangan yang terasa berat atau datar jika digunakan terlalu luas,” ujar Allegra.

Desainer interior John Stivale menguatkan pandangan ini. Ia memprediksi akan terjadi pergeseran signifikan dari rona gelap yang dramatis ke warna-warna yang memberikan efek menenangkan. “Pada tahun 2026 kami memprediksi terjadi pergeseran ke arah warna-warna hangat yang bermandikan sinar matahari, hijau tanah yang lembut, dan terakota yang lembut,” imbuhnya.

Menariknya, Stivale masih menyebut “terakota yang lembut”, yang mengindikasikan bahwa bukan warnanya yang sepenuhnya ditinggalkan, melainkan intensitasnya; versi yang lebih jenuh dan pekat digantikan oleh versi yang lebih halus dan tenang.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *