Lifestyle

Bukan Sekadar Penuaan Kini Uban Dikaitkan dengan Respons Tubuh Menangkal Kanker

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com Selama berabad-abad, munculnya uban atau rambut putih selalu diasosiasikan secara eksklusif dengan tanda penuaan, penurunan vitalitas, atau sekadar masalah estetika. Namun, sebuah terobosan ilmiah terbaru mengubah pandangan konvensional tersebut. Riset mutakhir yang dilakukan oleh tim peneliti dari The University of Tokyo dan dipublikasikan dalam jurnal bergengsi Nature Cell Biology pada Oktober 2025, menyingkap fakta mengejutkan: proses memutihnya rambut ternyata berkaitan erat dengan mekanisme cerdas tubuh dalam melindungi diri dari risiko kanker, khususnya melanoma atau kanker kulit.

‎Dinamika Sel Punca dan Asal-Usul Warna Rambut Untuk memahami hubungan unik ini, kita perlu melihat bagaimana rambut mendapatkan warnanya. Warna rambut manusia ditentukan oleh pigmen melanin yang diproduksi oleh sel khusus bernama melanosit. Sel-sel ini tidak muncul begitu saja, melainkan berasal dari induknya yang disebut melanocyte stem cells atau sel punca pigmen yang bersarang di dalam folikel rambut.

‎Dalam keadaan normal dan sehat, sel punca ini akan terus membelah dan meregenerasi diri setiap kali siklus pertumbuhan rambut terjadi, memastikan rambut baru tetap memiliki warna. Namun, seiring bertambahnya usia atau akibat paparan eksternal yang merusak—seperti radiasi, sinar ultraviolet, dan zat kimia berbahaya—materi genetik (DNA) di dalam sel punca ini mengalami kerusakan. Dot Bennett, ahli biologi sel dari City St George’s, University of London, menjelaskan bahwa ketika kerusakan DNA mencapai batas toleransi, sel punca akan berhenti membelah. Konsekuensi visual dari berhentinya produksi pigmen inilah yang kita lihat sebagai uban.

‎Dua Jalur Respons: Antara Uban dan Risiko Kanker Penelitian yang dipimpin oleh Prof. Emi Nishimura dari The Institute of Medical Science, The University of Tokyo, berhasil memetakan bahwa sel punca pigmen memiliki dua skenario respons saat menghadapi kerusakan DNA. Temuan inilah yang menjadi kunci pemahaman baru tersebut.

‎Jalur Penyelamatan (Munculnya Uban):

Ketika sel punca terpapar kerusakan genotoksik tertentu, misalnya radiasi, tubuh akan mengaktifkan mekanisme pertahanan yang disebut senescence-coupled differentiation. Dalam proses ini, sel punca yang rusak dipaksa untuk berhenti membelah, berubah bentuk (berdiferensiasi), dan akhirnya dikeluarkan dari sistem tubuh. Karena sel penghasil pigmen ini “dibuang” demi keamanan, rambut pun tumbuh tanpa warna alias beruban. Prof. Nishimura menegaskan bahwa ini adalah mekanisme pertahanan biologis. Dengan mematikan sel yang rusak sebelum mereka bermutasi liar, tubuh mencegah sel tersebut berkembang menjadi kanker. Jadi, uban adalah “bekas luka” dari pertempuran tubuh yang sukses menyingkirkan potensi bahaya.

‎Jalur Berisiko (Warna Bertahan, Bahaya Mengintai):

Skenario sebaliknya terjadi jika sel punca terpapar karsinogen spesifik seperti sinar ultraviolet B (UVB) atau zat kimia pemicu kanker lainnya. Dalam kondisi ini, mekanisme pengaman tubuh bisa gagal atau terlewati. Sel punca yang DNA-nya sudah rusak tidak dimatikan, melainkan tetap bertahan hidup dan terus membelah. Secara fisik, rambut mungkin tetap terlihat hitam atau berwarna (tidak beruban), namun ini justru menyimpan bahaya tersembunyi. Sel-sel rusak yang terus hidup ini memiliki potensi besar untuk bermutasi menjadi melanoma di kemudian hari. Artinya, rambut yang tidak beruban di usia lanjut tidak selamanya menandakan kesehatan seluler yang prima; dalam konteks tertentu, itu bisa berarti sel rusak telah lolos dari sistem seleksi alam tubuh.

‎Makna Baru Penuaan Penting untuk digarisbawahi, para peneliti menekankan bahwa memiliki uban bukan berarti seseorang kebal terhadap kanker. Uban bukanlah “obat” pencegah kanker, melainkan indikator bahwa mekanisme perlindungan di tingkat sel telah bekerja aktif membuang sel yang rusak.

‎Meskipun penelitian ini masih berbasis pada model hewan dan memerlukan validasi lebih lanjut pada manusia, temuan ini memberikan perspektif filosofis dan biologis baru tentang penuaan. Rambut beruban bukan sekadar tanda kita bertambah tua, melainkan bukti bahwa tubuh sedang bekerja keras menjaga keseimbangan antara regenerasi sel dan eliminasi potensi penyakit mematikan. Tubuh manusia ternyata memiliki sistem perlindungan yang jauh lebih kompleks dan cerdas daripada yang terlihat di permukaan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version