Nasional
BMKG Peringatkan Potensi Bencana Susulan di Sumatra: MCC Ancam Perpanjang Cuaca Ekstrem
Sumatra (usmnews) – Dikutip CNN Indonesia Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini yang mendesak bagi masyarakat dan pemerintah daerah di wilayah Sumatra mengenai potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu terjadinya bencana hidrometeorologi susulan. Meskipun bencana banjir bandang dan tanah longsor yang dipicu oleh Siklon Tropis Senyar sebelumnya telah mengakibatkan kerusakan signifikan, ancaman tersebut belum sepenuhnya berakhir. Deputi Meteorologi BMKG, Guswanto, menyoroti deteksi keberadaan Meso Siklon Konvektif Kompleks (MCC) di Samudra Hindia, tepatnya di sebelah barat Pulau Sumatra, yang diperkirakan akan memperpanjang periode cuaca buruk di kawasan tersebut.
Fenomena MCC merupakan sistem kumpulan badai petir berskala besar, terorganisir, dan berumur panjang yang mampu menghasilkan dampak yang sangat berbahaya, termasuk hujan ekstrem dengan curah yang sangat tinggi dalam durasi yang lama, angin kencang, bahkan hujan es. Kondisi ini menuntut kewaspadaan ekstra, khususnya bagi daerah yang sudah sangat rentan seperti Mandailing Natal di Sumatra Utara serta sebagian besar wilayah Sumatra Barat.
Ancaman bencana susulan ini terjadi tak lama setelah wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat dihantam oleh dampak parah dari Siklon Tropis Senyar. Siklon yang berkembang dari Bibit Siklon Tropis 95B ini mulai aktif sejak 21 November 2025 di perairan timur Aceh (Selat Malaka). Intensitas hujan harian yang dibawa oleh siklon ini telah memicu bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menimbulkan kerusakan masif di berbagai kabupaten dan kota. Kerusakan semakin diperparah karena sistem siklon tersebut sempat bergerak dan berputar di atas daratan Sumatra, tepatnya dari Aceh Timur menuju Aceh Tamiang, yang menghasilkan dampak yang jauh lebih dahsyat.
Meskipun Siklon Tropis Senyar telah melemah, BMKG menegaskan bahwa aktivitas MCC saat ini bertindak sebagai pemicu utama yang mempertahankan intensitas hujan tinggi, sehingga potensi banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang tetap tinggi.
Lebih lanjut, BMKG menjelaskan bahwa kondisi cuaca ekstrem di Indonesia dipengaruhi oleh perpaduan kompleks dari berbagai fenomena atmosfer, baik pada skala global, regional, maupun lokal, yang diprediksi akan berlangsung hingga sepekan ke depan. Secara lokal, terpantau adanya Gelombang Rossby Ekuator yang aktif di wilayah yang sama, turut berkontribusi dalam meningkatkan curah hujan. Selain itu, Siklon Tropis Koto di Laut Filipina juga memberikan dampak tidak langsung berupa hujan sedang hingga lebat serta potensi gelombang tinggi (1.25 – 4 meter) di perairan utara Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku Utara.
Pada skala global, faktor-faktor lain semakin memperkuat potensi hujan di wilayah barat Indonesia. Dipole Mode Index (DMI) tercatat pada nilai minus (−0.6), yang secara umum mengindikasikan potensi peningkatan pembentukan awan hujan. Bersamaan dengan itu, adanya kondisi La Niña lemah (indeks Nino 3.4 Relatif sebesar -0.42 dan Southern Oscillation Index/SOI sebesar +15.5) akan meningkatkan peluang hujan di wilayah Indonesia bagian timur. Fenomena lain yang signifikan adalah penguatan Monsun Asia dan dominasi komponen angin zonal baratan. Kondisi ini secara efektif menambah pasokan uap air dari Samudra Hindia dan memicu pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah Nusantara.
Pergerakan Madden-Julian Oscillation (MJO) yang diprediksi berada pada fase 6 (Western Pacific) bersamaan dengan aktivitas Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuator di wilayah-wilayah kritis seperti Selat Malaka, Samudra Hindia barat Aceh, dan Samudra Hindia selatan Jawa hingga Nusa Tenggara Timur, semakin mendukung peningkatan pembentukan awan hujan.
Menghadapi kombinasi ancaman multi-fenomena ini, BMKG mengimbau agar pemerintah daerah, tim tanggap darurat, dan seluruh lapisan masyarakat di wilayah terdampak untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan secara maksimal. Fokus utama harus diberikan pada pencegahan dan mitigasi terhadap risiko banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang, terutama di lokasi-lokasi yang sudah mengalami kerusakan parah sebelumnya.