Connect with us

Nasional

Berdasarkan laporan BNPB, aktivitas erupsi Gunung Semeru telah mengakibatkan tiga orang menderita luka berat serta kerusakan pada lahan seluas 204 hektare.

Published

on

Semarang (usmnews) dikutip dari antaranews.com Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis pembaruan data terkait dampak erupsi Gunung Semeru yang mengguncang wilayah Lumajang, Jawa Timur, beberapa hari lalu. Berdasarkan laporan resmi yang disampaikan di Jakarta pada Senin ini, bencana vulkanik tersebut telah mengakibatkan kerugian materiel yang signifikan serta dampak serius bagi keselamatan warga.

1.Korban Luka dan Kerusakan Infrastruktur Vital
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengonfirmasi bahwa insiden ini menyebabkan tiga orang warga mengalami luka berat. Saat ini, ketiga korban tersebut telah dievakuasi dan sedang menjalani perawatan intensif oleh tim medis di RSUD Dr. Haryoto Lumajang untuk memulihkan kondisi fisik mereka.

Selain korban jiwa, kerusakan fisik akibat material vulkanik juga tercatat cukup luas. Sektor pertanian menjadi salah satu yang terdampak paling parah dengan total kerusakan lahan mencapai 204,63 hektare. Kerusakan lahan seluas ini dikhawatirkan akan memengaruhi produktivitas pertanian lokal dalam jangka pendek.

Kerusakan infrastruktur bangunan juga tidak terelakkan, dengan rincian sebagai berikut:

21 unit rumah warga mengalami kerusakan berat.

1 unit fasilitas pendidikan rusak berat.

1 unit fasilitas kesehatan rusak berat.

1 unit gardu PLN rusak berat, yang berpotensi mengganggu aliran listrik di area terdampak.

2.Wilayah Terdampak dan Kondisi Pengungsian

Muntahan material vulkanik Semeru memberikan dampak terburuk pada tiga desa di dua kecamatan berbeda. Desa-desa tersebut adalah Desa Supiturang dan Desa Oro-Oro Ombo di Kecamatan Pronojiwo, serta Desa Penanggal di Kecamatan Candipuro.

Hingga hari Minggu (23/11), tim gabungan mencatat adanya gelombang pengungsian yang cukup besar. Sebanyak 528 warga terpaksa meninggalkan rumah mereka demi keamanan. Para pengungsi ini tersebar di dua titik posko utama yang telah disiapkan pemerintah:

SMP Negeri 02 Pronojiwo: Menampung 307 jiwa.

SDN 04 Supiturang: Menampung 221 jiwa.

Meskipun harus tinggal di pengungsian, ketahanan warga terlihat dari aktivitas harian mereka. Abdul Muhari menuturkan bahwa para pengungsi tetap berupaya produktif, mulai dari kembali sebentar untuk membersihkan rumah dari debu vulkanik hingga tetap bekerja jika memungkinkan.

3.Penyaluran Bantuan Logistik dan Pangan

Untuk merespons kebutuhan mendesak para korban, BNPB bekerja sama dengan Komisi VIII DPR RI telah menyalurkan paket bantuan komprehensif. Bantuan ini ditujukan tidak hanya bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal, tetapi juga masyarakat sekitar yang terpapar abu vulkanik.

Rincian bantuan logistik yang telah didistribusikan meliputi:

Perlengkapan Tidur & Hunian: 300 matras, 300 selimut, dan 300 lembar terpal.

Kesehatan & Kebersihan: 200 boks masker medis (penting untuk perlindungan pernapasan dari abu), 150 paket alat kebersihan, dan 200 paket plastik sampah.

Pangan: 1.000 porsi makanan siap saji dan 200 paket sembako untuk kebutuhan dapur umum maupun individu.

4.Kilas Balik Kronologi Erupsi

Berdasarkan data teknis dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), peristiwa erupsi ini terjadi pada hari Rabu, 19 November, pukul 16.00 WIB.

Aktivitas vulkanik ditandai dengan dua fenomena utama:

Kolom Letusan: Teramati membumbung setinggi kurang lebih 2.000 meter di atas puncak gunung.

Awan Panas Guguran (APG): Material vulkanik panas meluncur dengan jarak jangkau mencapai tujuh kilometer dari puncak, yang menjadi penyebab utama kerusakan di area lereng gunung.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *