Connect with us

Lifestyle

Berapa jumlah mi instan yang disarankan aman untuk dikonsumsi menurut anjuran dokter?

Published

on

Semarang (usmnews) dikutip dari cnbcindonesia.com Mi instan telah lama menjadi makanan penyelamat dan favorit universal, dikenal karena rasa gurihnya yang memuaskan dan kemudahannya disajikan—menjadi pilihan andalan bagi mahasiswa, pekerja kantoran, hingga siapa saja yang mencari solusi makan cepat. Namun, kemudahan dan kenyamanan ini datang dengan risiko kesehatan jangka panjang yang signifikan jika dikonsumsi secara berlebihan. Menurut rekomendasi para profesional medis, termasuk Dr. Manan Vora, seorang dokter ortopedi dari Mumbai, mengandalkan mi instan sebagai makanan utama harian dapat merusak kesehatan dan dampaknya akan terasa seiring waktu. Ia bahkan memperingatkan bahwa mi instan seharusnya dipandang sebagai “kerusakan instan” (instant damage) alih-alih “kenyamanan instan” (instant comfort).

Pada dasarnya, konsumsi mi instan sesekali tidaklah bermasalah bagi tubuh yang sehat. Namun, persoalan utama timbul ketika frekuensi konsumsi menjadi terlalu tinggi, terutama mengingat maraknya tren produk-produk ultra-pedas yang semakin digemari. Dr. Vora menyoroti tiga “sinyal bahaya” atau red flags yang hampir selalu ada di dalam formulasi mi instan dan menjadikannya berbahaya bila disantap secara rutin:

1. Bahaya Pengawet Sintetis: TBHQ

Bahan pertama yang disorot adalah TBHQ (Tertiary Butylhydroquinone), sebuah antioksidan sintetis yang dimasukkan untuk memperpanjang masa simpan produk dengan mencegah lemak dan minyak menjadi tengik. Walaupun berperan sebagai pengawet, TBHQ adalah zat buatan. Konsumsi pengawet ini secara berulang dan dalam jumlah besar dapat memicu penumpukan stres oksidatif di dalam tubuh, sehingga memberikan beban tambahan yang memberatkan sistem biologis kita.

2. Mikroplastik dari Kemasan Polistirena

Banyak produk mi instan yang dikemas dalam bentuk cangkir (cup noodles) menggunakan polistirena, sejenis plastik sintetis. Dr. Vora menjelaskan bahwa ketika air panas dituangkan langsung ke dalam kemasan tersebut, risiko pelepasan mikroplastik dari wadah ke dalam makanan menjadi sangat tinggi. Paparan mikroplastik ini, seiring waktu, dapat memicu peradangan kronis dan mengiritasi saluran usus, yang telah dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan dalam sejumlah studi.

3. Zat Adiktif yang Mendorong Craving

Ketiga, mi instan mengandung kadar pewarna buatan, perisa sintetis, dan MSG (monosodium glutamat) yang sangat tinggi. Kombinasi formulasi ultra-proses ini bukan hanya membuat rasa mi menjadi luar biasa gurih, tetapi juga secara sengaja didesain untuk meningkatkan keinginan makan (craving) dan membuatnya terasa adiktif bagi konsumen. Formulasi ini menjamin produk dapat bertahan lama di rak dan terus dicari oleh konsumen.

Risiko Defisiensi Gizi dan Penyakit Degeneratif

Meskipun mi instan yang terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) umumnya telah melewati uji keamanan terkait penggunaan pengawet seperti natrium benzoat dan pewarna seperti tartrazine pada batas wajar, Dr. Sungadi Santoso, seorang dokter sekaligus edukator kesehatan, menekankan bahwa masalah sebenarnya terletak pada ketidakseimbangan nutrisi.

Mi instan, pada dasarnya, hanya mengandung kadar karbohidrat dan lemak yang tinggi, tetapi sangat minim protein, vitamin, mineral, dan fitonutrien esensial. Jika hidangan ini dijadikan menu utama harian tanpa tambahan gizi yang seimbang, tubuh akan menderita defisiensi nutrisi kritis, seperti kekurangan zat besi, kalsium, atau vitamin penting. Kondisi malnutrisi tersembunyi ini dapat bermanifestasi dalam gejala fisik seperti mudah lelah, kantuk berlebihan, kesulitan berkonsentrasi, hingga peningkatan kerentanan terhadap penyakit.

Selain itu, tingginya kadar garam yang ditemukan dalam bumbu mi instan juga menjadi perhatian utama. Asupan natrium berlebih yang berkelanjutan dapat memicu tekanan darah tinggi (hipertensi) dan gangguan kesehatan terkait lainnya. Dr. Sung menyimpulkan bahwa meskipun tubuh dapat beradaptasi pada awalnya, penumpukan pengawet dan pewarna yang seharusnya dapat dinetralkan, ditambah kenaikan berat badan dan risiko obesitas, pada akhirnya akan meningkatkan risiko munculnya penyakit degeneratif lainnya. Oleh karena itu, para ahli kesehatan sepakat untuk membatasi konsumsi mi instan dan menyarankan untuk selalu memilih makanan utuh (whole foods) untuk melindungi usus, menjaga tingkat energi, dan menjamin kesehatan jangka panjang.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *