Connect with us

Lifestyle

Berakhirnya Sebuah Era: Mengenang Jejak Sang Maestro, Valentino Garavani (1932–2026)

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari CNNIndonesia Dunia mode internasional tengah diselimuti duka mendalam atas kepergian salah satu pilar terbesarnya. Valentino Garavani, perancang busana legendaris yang mendefinisikan kemewahan dan keanggunan Italia, mengembuskan napas terakhirnya pada usia 93 tahun. Kabar wafatnya sang maestro dikonfirmasi pada 19 Januari 2026 waktu setempat. Ia meninggal dengan tenang di kediamannya di Roma, dikelilingi oleh keluarga dan orang-orang terdekatnya, menandai akhir dari perjalanan panjang seorang jenius kreatif yang telah mengubah wajah haute couture dunia.

Lahir di Voghera, Italia, pada 11 Mei 1932 dengan nama lengkap Valentino Clemente Ludovico Garavani, minatnya pada dunia estetika sudah terlihat sejak usia dini. Perjalanan kariernya dimulai dengan tekad baja untuk belajar langsung di pusat mode dunia, Paris. Di sana, ia mengasah bakatnya di lembaga bergengsi seperti École des Beaux-Arts dan Chambre Syndicale de la Couture Parisienne. Sebelum menjadi nama besar yang kita kenal sekarang, Valentino sempat menimba pengalaman berharga melalui magang di rumah mode terkemuka seperti Jacques Fath dan Balenciaga, serta bekerja untuk desainer Jean Dessès dan Guy Laroche.

Titik balik yang melambungkan namanya ke panggung dunia terjadi ketika ia kembali ke Italia dan mendirikan rumah modenya di Roma. Momen krusial datang saat Jacqueline Kennedy, ikon gaya Amerika, mulai mengenakan rancangannya secara konsisten setelah masa berkabung atas wafatnya Presiden John F. Kennedy. Hubungan ini mencapai puncaknya ketika Jackie mengenakan gaun pengantin rancangan Valentino saat menikah dengan Aristotle Onassis, yang seketika menjadikan Valentino sebagai standar emas bagi kalangan aristokrat dan selebritas global.

Identitas Valentino tidak dapat dipisahkan dari warna merah khas yang ia ciptakan, yang kini dikenal dunia sebagai “Valentino Red”. Baginya, merah bukan sekadar warna, melainkan simbol kekuatan, kepercayaan diri, dan gairah. Filosofi desainnya sangat sederhana namun mendalam: ia ingin membuat perempuan merasa cantik. Hal ini tercermin dari deretan klien setianya yang mencakup bintang papan atas seperti Jennifer Aniston, Gwyneth Paltrow, hingga Anne Hathaway. Keahliannya dalam menciptakan siluet yang anggun dan detail yang rumit menjadikannya desainer favorit untuk karpet merah selama beberapa dekade.

Valentino resmi pensiun dari dunia mode pada tahun 2007, sebuah keputusan yang ia ambil dengan prinsip untuk “meninggalkan pesta saat suasana masih meriah.” Peragaan busana terakhirnya di Musée Rodin, Paris pada Januari 2008, menjadi momen bersejarah yang emosional bagi para pelaku industri mode. Meskipun telah pensiun, pengaruhnya tetap kuat melalui rumah mode Valentino yang diteruskan oleh penerus-penerusnya. Kepergiannya kini meninggalkan lubang besar dalam sejarah seni rupa dan busana, namun warisannya berupa standar estetika yang tak lekang oleh waktu akan terus menginspirasi generasi desainer di masa depan. Upacara penghormatan terakhir direncanakan akan berlangsung di Piazza Mignanelli, Roma, sebagai bentuk apresiasi tertinggi bagi sang Kaisar Terakhir dunia mode.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *